REPUBLIKA.CO.ID,YERUSALEM -- Otoritas Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap jamaah Palestina yang hendak menunaikan sholat Jumat pertama Ramadhan di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur. Mereka membatasi jumlah warga Tepi Barat yang diizinkan masuk.
Seperti dilaporkanb Saudigazette pada Jumat (20/2/2026), ratusan warga Palestina telah berkumpul sejak sebelum subuh di sejumlah pos pemeriksaan yang mengelilingi Yerusalem. Mereka berharap dapat mencapai kompleks suci tersebut, namun banyak yang dipulangkan meski telah memegang izin resmi.
Otoritas Israel menyatakan hanya akan mengizinkan maksimal 10 ribu warga Palestina dari Tepi Barat memasuki kompleks Al-Aqsa dalam satu hari dan itu pun dengan izin khusus. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Otoritas Palestina menyebut ribuan warga masih terlantar di pos pemeriksaan Qalandiya setelah kuota dinyatakan terpenuhi. Media Israel, Channel 12, melaporkan hanya sekitar 2.000 warga Palestina yang berhasil melewati pos pemeriksaan tersebut menuju Yerusalem pada pagi hari, di tengah peningkatan siaga militer Israel.
Laporan Al Jazeera dari pos pemeriksaan Qalandiya menyebut pembatasan itu sangat timpang dibandingkan jumlah populasi Tepi Barat yang mencapai sekitar 3,3 juta jiwa. Pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah jamaah yang memadati kompleks Al-Aqsa pada Jumat pertama Ramadhan bisa mencapai 250 ribu orang.
Menjelang siang, kantor berita Palestina Wafa melaporkan otoritas Israel mengklaim kuota dari wilayah Tepi Barat telah terpenuhi, termasuk untuk distrik Yerusalem, salah satu dari 16 distrik administratif Palestina.
Kelompok hak asasi manusia menilai pembatasan ini terjadi di tengah peningkatan penangkapan dan perintah pengusiran warga Palestina di Yerusalem Timur dalam beberapa pekan terakhir. Kekerasan di Tepi Barat juga meningkat sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023.
Warga Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan. Sebaliknya, Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kota yang tidak terbagi. Status kota suci tersebut terus menjadi titik konflik, terutama setiap Ramadhan ketika akses ke situs-situs suci diperketat.
Otoritas Palestina, kelompok HAM, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut terjadi peningkatan kekerasan oleh pemukim ilegal Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Laporan menyebut penggunaan peluru tajam secara luas, penembakan langsung terhadap warga Palestina, pembakaran rumah, serta perebutan lahan.
Pada Rabu lalu, seorang pemuda Palestina-Amerika dilaporkan tewas dan empat lainnya terluka ketika sekelompok pemukim Israel, yang disebut didukung pasukan Israel, melepaskan tembakan ke sebuah desa di Tepi Barat.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 1.100 warga Palestina telah tewas akibat serangan pasukan dan pemukim Israel di Tepi Barat sejak 2023, sementara lebih dari 10 ribu orang lainnya mengungsi secara paksa akibat kekerasan yang terus meningkat.

3 hours ago
7















































