Apa Makna Doa Kamilin yang Dibaca Setelah Shalat Tarawih dan dari Mana Asal Usulnya?

4 hours ago 7

Umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Ribuan jamaah tampak memadati masjid terbesar se-Asia Tenggara untuk menunaikan ibadah shalat Tarawih perdana menyambut Ramadhan 1447 Hijriah. Pemerintah menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada Kamis (19/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Salah satu doa yang tak pernah terlewatkan umat Islam selama Ramadhan setelah shalat tarawih adalah membaca doa Kamilin. Apa itu doa kamilin dan dari manakah asal usulnya?

Setelah melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat atau delapan rakaat, umat Islam dianjurkan untuk berdoa dan memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan kekuatan dalam menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

“Doa Kamilin” adala doa yang bermakna orang-orang yang sempurna imannya. Sebutan “kamilin” diambil dari kalimat pembuka doa tersebut, yang berisi permohonan agar terbentuk pribadi-pribadi yang sempurna dalam keimanan.

Kandungan doa ini cukup lengkap, mencakup urusan dunia dan akhirat, kenikmatan maupun kesulitan, permohonan keberkahan malam yang mulia, diterimanya amal, serta berbagai harapan lainnya. Karenanya, sangat tepat jika doa ini dibaca selama bulan Ramadhan, khususnya setelah melaksanakan shalat Tarawih.

Doa yang hampir selalu dibaca oleh umat Islam di Indonesia ini juga tercantum dalam berbagai kitab doa karya ulama Nusantara.

Salah satunya adalah karya Almaghfurlah KH Maftuh Basthul Birri, pendiri Pondok Pesantren Murottilil Qur’an Lirboyo Kediri, yang berjudul Silah al-Mujarrab.

Doa ini juga terdapat dalam kitab Majmu’ah Maqruat Yaumiyah wa Usbu’iyyah yang berupa kompilasi doa yang disusun oleh pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban,

Almaghfurlah KH Abdullah Faqih. Dalam pengantarnya, KH Abdullah Faqih mengatakan, bahwa doa-doa dalam kitab itu merupakan hasil ijazah dari Kiai Abdul Hadi (Langitan), Kyai Ma'shum (Lasem), Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, dan Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani.

Read Entire Article
Politics | | | |