
Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
REPUBLIKA.CO.ID, Hari ini, 19 Agustus 2026, Indonesia masih berada dalam suasana peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap tahun, peringatan kemerdekaan selalu membawa kita pada pertanyaan tentang perjalanan bangsa, sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan, apa yang telah dicapai, dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah. Namun tahun ini, peringatan kemerdekaan terasa hadir dalam suasana yang sedikit berbeda.
Di tengah berbagai perayaan dan upacara yang berlangsung di banyak tempat, saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi beberapa hari lalu. Di satu sisi ada kegembiraan memperingati kemerdekaan, sementara di sisi lain ada saudara sebangsa yang sedang berjuang memulihkan kehidupan.
Mungkin memang demikian wajah sebuah bangsa. Kemerdekaan tidak selalu dapat dirayakan dalam keadaan yang sempurna. Ada saatnya kita berdiri dengan penuh kegembiraan, tetapi ada pula saatnya kita harus menoleh kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi juga tentang kesediaan untuk saling menjaga ketika sebagian dari kita sedang berada dalam keadaan ditimpa kesulitan.
Di kampus, kehidupan akademik pun berjalan seperti biasa. Bimbingan mahasiswa Doktoral masih berlangsung. Seminar kemajuan penelitian mahasiswa S3 Informatika tetap dilaksanakan. Demikian pula Ujian Tertutup bagi mahasiswa Doktoral yang telah sampai pada tahap akhir perjalanan penelitiannya. Di tengah peringatan kemerdekaan, ada mahasiswa yang masih membuka laptop untuk memperbaiki Disertasi, berdiskusi dengan promotor, menyempurnakan analisis, atau mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Pemandangan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi bagi saya justru di situlah tampak salah satu bentuk makna dari wajah kemerdekaan yang sesungguhnya. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang terus belajar. Kemerdekaan memberikan ruang bagi manusia untuk mengembangkan pikirannya, mencari pengetahuan, melakukan penelitian, dan membangun masa depan dengan kemampuan yang dimilikinya.
Beberapa hari terakhir, saya juga kembali melihat perjalanan pendidikan itu dalam lingkup keluarga. Tengah malam tadi, 18 Agustus 2026, Najwa Rashika berangkat ke Bandung untuk bertemu dengan program studinya dan mempersiapkan diri memulai perkuliahan Magister Teknik Dirgantara di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah melalui perjalanan pendidikan yang panjang hingga akhirnya memilih melanjutkan studi di ITB, kini sebuah babak baru akan segera dimulai. Sebagai orang tua, ada rasa haru ketika melihat anak yang dahulu kami antar menuju sekolah kini berangkat sendiri menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Hari ini, 19 Agustus 2026, keluarga kami juga memiliki satu alasan lain untuk bersyukur. Naufal Rasendriya, kakaknya Najwa, berulang tahun ke-27. Dua peristiwa yang sederhana, tetapi terjadi berdekatan, seorang anak berangkat memulai perjalanan akademik baru, sementara seorang anak lainnya bertambah usia. Keduanya mengingatkan bahwa waktu terus bergerak dan setiap generasi memiliki perjalanan serta amanahnya masing-masing.
Barangkali hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan sebuah bangsa. Indonesia yang hari ini memperingati kemerdekaan ke-81 bukanlah Indonesia yang sama dengan delapan puluh satu tahun lalu. Setiap generasi menerima bangsa ini dalam keadaan tertentu, kemudian memiliki tugas untuk menjaganya, memperbaikinya, dan menyerahkannya kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.
Karena itu, kemerdekaan tidak pernah menjadi pekerjaan yang selesai hanya karena sebuah negara telah merdeka. Setiap generasi memiliki amanah yang harus ditunaikan. Bagi pemerintah, amanah itu adalah menghadirkan kebijakan yang adil dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Bagi pendidik, amanah itu adalah mendidik generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter. Bagi mahasiswa, amanah itu adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan menggunakan ilmu yang diperolehnya untuk memberikan manfaat. Bagi masyarakat, amanah itu adalah menjaga kehidupan bersama, saling membantu, dan tidak kehilangan kepedulian terhadap sesama.
Gempa di NTT mengingatkan kita bahwa pembangunan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi. Ketangguhan bangsa juga terlihat dari bagaimana masyarakat saling membantu ketika bencana datang, bagaimana negara hadir ketika rakyat membutuhkan, dan bagaimana mereka yang berada dalam keadaan lebih baik bersedia memberikan sebagian kemampuannya kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Demikian pula pendidikan, ketika seorang mahasiswa menyelesaikan tesis atau disertasi, pekerjaan pendidikan sebenarnya tidak selesai. Ilmu yang diperoleh kemudian membawa amanah baru: digunakan untuk mengajar, melakukan penelitian, menyelesaikan persoalan masyarakat, atau membuka jalan bagi generasi berikutnya. Seorang doktor bukan hanya seseorang yang telah memperoleh gelar, tetapi seseorang yang mendapatkan tanggung jawab lebih besar untuk mengembangkan dan membagikan pengetahuan.
Mungkin karena itu pula saya melihat bimbingan, seminar kemajuan, dan ujian tertutup yang masih berlangsung di tengah suasana kemerdekaan ini dengan perspektif yang sedikit berbeda. Setiap mahasiswa yang sedang menyelesaikan penelitian sebenarnya sedang mengambil bagian dalam perjalanan panjang bangsa. Tidak semua hasilnya akan langsung terlihat. Sebagian mungkin baru memberikan manfaat bertahun-tahun kemudian. Namun seperti pendidikan yang membutuhkan waktu, membangun bangsa pun demikian.
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka adalah perjalanan panjang, tetapi bukan akhir dari perjalanan. Setiap generasi menerima amanah dari generasi sebelumnya dan pada waktunya harus menyerahkannya kepada generasi berikutnya. Begitu pula dalam keluarga, pendidikan, dan kehidupan kita masing-masing. Anak-anak tumbuh, mahasiswa menyelesaikan studinya, dosen terus mendidik, dan bangsa terus bergerak.
Kemerdekaan memberi kita kesempatan. Pendidikan memberi kita kemampuan dan pengetahuan. Dan amanah mengingatkan kita untuk menggunakan keduanya dengan sebaik-baiknya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58).
Selama masih ada generasi yang harus dididik, ilmu yang harus dikembangkan, sesama yang harus dibantu, dan masa depan yang harus dipersiapkan, amanah itu memang tidak pernah benar-benar selesai. Wallāhu a'lam.

6 hours ago
21

















































