Agresi ke Iran, Awal Runtuhnya Dominasi Global AS?

5 hours ago 6

Oleh : Pipip A Rifai Hasan; pengajar di Program Magister Studi Islam, Universitas Paramadina, dan Ketua Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Klaim kemenangan Presiden Donald Trump atas agresi gabungan Amerika Serikat–Israel terhadap Iran pada awal Maret tampak prematur. Alih-alih mereda, konflik justru menunjukkan tanda-tanda berlarut. Iran masih memperlihatkan perlawanan yang kuat, sementara biaya ekonomi dan politik Amerika Serikat terus meningkat.

Sejumlah petinggi Iran memang dilaporkan wafat. Namun, struktur kekuasaan Republik Islam tidak terlihat retak. Bahkan, di tengah tekanan tersebut, muncul konsolidasi kepemimpinan baru, dengan nama Mojtaba Khamenei telah diresmikan sebagai pemimpin tertinggi baru.

Penolakan Teheran terhadap dua tawaran gencatan senjata yang dibawa utusan khusus AS, Steve Witkoff, mempertegas bahwa mereka tidak merasa berada di pihak yang terdesak. Sebaliknya, para pemimpin Iran menilai Washington tengah menghadapi tekanan domestik. Mereka memperkirakan konflik akan berakhir karena meningkatnya beban ekonomi, politik, dan militer yang harus ditanggung Amerika Serikat.

Situasi ini menimbulkan ketidakpastian. Sejumlah pengamat menilai, meskipun kemampuan militer Iran mungkin telah melemah, “kemenangan” formal tetap sulit dicapai oleh AS dan Israel karena ketiadaan tujuan politik yang jelas. Risiko perang berkepanjangan pun terbuka lebar.

Juga yang tak kalah penting, konflik ini berpotensi memperburuk kondisi ekonomi dan keuangan AS. Tekanan fiskal meningkat, proyeksi pertumbuhan melemah, dan risiko resesi menguat. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mendasar: mampukah AS menanggung biaya perang di tengah kondisi ekonomi domestik yang rapuh? Lebih jauh lagi, apakah AS mampu mempertahankan dominasi globalnya dalam jangka panjang?

Imperial Overstretch

Pertanyaan tersebut mengingatkan pada tesis klasik sejarawan Paul Kennedy tentang kebangkitan dan kemunduran kekuatan besar. Ia menegaskan bahwa kekuatan global tidak runtuh semata karena kekalahan militer, melainkan karena ketidakseimbangan antara ambisi strategis dan kapasitas ekonomi.

Ketika sebuah negara memperluas komitmen militernya melampaui daya dukung ekonominya, ia memasuki fase imperial overstretch. Sejarah mencatat, pola ini pernah menimpa kekaisaran besar seperti Spanyol, Inggris, dan Utsmani.

Keterlibatan militer Amerika Serikat yang berkepanjangan di Timur Tengah menunjukkan gejala serupa. Ambisi AS mempertahankan dominasi global kerap tidak diimbangi dengan perhitungan kapasitas ekonominya.

Biaya Kepemimpinan Global

Sejak berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat mengambil peran sebagai kekuatan global dengan strategi intervensi militer di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah. Kebijakan ini kerap dibingkai sebagai upaya menjaga stabilitas internasional dan melindungi kepentingan nasional.

Namun, biaya yang ditimbulkan sangat besar, sementara hasil strategisnya sering kali tidak sebanding. Pengeluaran militer Amerika Serikat menjadi yang terbesar di dunia, sementara tantangan domestik—mulai dari ketimpangan ekonomi, problem sosial, hingga polarisasi politik—justru meningkat.

Dalam waktu yang sama, Amerika Serikat menghadapi persaingan global yang semakin ketat, terutama dari Tiongkok, yang terus memperkuat posisi dalam produksi industri, teknologi terapan, dan pembangunan infrastruktur. Sumber daya yang tersedot ke konflik militer berpotensi mengurangi daya saing Amerika dalam arena yang justru menentukan masa depan kekuatan global.

Peringatan Realis dan Kesalahan Strategis

Kalangan realis dalam hubungan internasional telah lama mengingatkan risiko kebijakan luar negeri yang terlalu ekspansif. John Mearsheimer, misalnya, menilai bahwa banyak intervensi militer AS justru menghasilkan ketidakstabilan, alih-alih keamanan.

Dalam konteks Iran, pendekatan militer menghadapi tantangan serius. Iran bukan aktor yang terisolasi, melainkan memiliki jaringan politik dan militer yang luas di kawasan. Upaya menekan atau bahkan menggulingkan rezimnya berisiko memicu konflik berkepanjangan tanpa hasil yang jelas.

Ekonom Jeffrey Sachs menambahkan dimensi lain: biaya perang modern tidak hanya diukur dalam kerugian militer, tetapi juga dalam peluang ekonomi yang hilang. Dana besar yang dialokasikan untuk konflik seharusnya dapat digunakan untuk investasi produktif seperti pendidikan, infrastruktur, dan inovasi teknologi.

Jika tren ini berlanjut, kekuatan Amerika justru terkikis dari dalam—bukan oleh serangan lawan, melainkan oleh beban yang diciptakannya sendiri.

Narasi Media dan Politik Perang

Sementara itu, jurnalis dan penulis Max Blumenthal berpendapat, diskusi publik tentang konflik Timur Tengah termasuk Iran, lebih mencerminkan kepentingan lobi Israel lewat narasi media, ketimbang analisis strategis yang cermat. Tekanan politik, seperti file Eppstein, terkadang mendorong Washington menuju konfrontasi daripada diplomasi. Kebijakan luar negeri AS, lebih sering ditentukan oleh politik domestik dan tekanan lobi terutama Zionis, yang ujungnya mempersulit kepentingan jangka panjang AS sendiri.

Perubahan tatanan global memperkuat tantangan tersebut. Dunia saat ini bergerak menuju konfigurasi multipolar dengan distribusi kekuatan ekonomi yang semakin tersebar. Asia menjadi pusat pertumbuhan baru, sementara rivalitas teknologi dan geopolitik kian intensif.

Dalam konteks ini, konflik berkepanjangan dengan Iran dapat menjadi distraksi strategis. Alih-alih memperkuat posisi global, kebijakan tersebut justru berpotensi menghambat kemampuan Amerika Serikat untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan besar bertahan bukan hanya karena superioritas militer, tetapi juga karena ketahanan ekonomi dan stabilitas domestik. Tanpa pondasi tersebut, dominasi global sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi Amerika Serikat mungkin bukan datang dari Iran atau kekuatan eksternal lainnya. Ancaman itu muncul ketika ambisi global melampaui kapasitas nasional.

Apakah para pembuat kebijakan di Washington mau meninjau wawasan historis Kennedy? Nampaknya dorongan untuk itu belum ada. Tidak ada tanda-tanda AS, apalagi di bawah Trump, akan berhenti menggunakan kekuatan militer untuk hegemoninya. Bisa jadi agresinya bersama Israel terhadap Iran ini merupakan awal dari kejatuhan AS sebagai kekuatan besar, atau paling tidak, kemunduran dominasi globalnya. Walaupun kemungkinannya belum pasti, namun tanda-tandanya mulai terlihat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |