UEFA Selidiki Dugaan Hinaan Prestianni ke Vinícius, Benfica Pasang Badan

8 hours ago 7

Penyerang Real Madrid Vinicius Junior.

REPUBLIKA.CO.ID, LISBON — Drama yang mewarnai leg pertama playoff Liga Champions UEFA antara Benfica dan Real Madrid di Estadio da Luz, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB, tak berhenti meskipun laga telah usai. Tudingan rasisme yang menyeret nama winger muda Benfica Gianluca Prestianni dan bintang Madrid Vinicius Junior berlanjut kepenyelidikan.

Insiden terjadi di tengah pertandingan ketika Vinicius mengaku menerima ucapan bernada rasial. Rekaman televisi memperlihatkan Prestianni menutup mulut dengan bajunya saat berbicara. Ini gesture yang lazim dilakukan pemain agar gerak bibir mereka tak terbaca. Vinicius dan beberapa pemain Madrid menilai ucapan tersebut mengandung hinaan.

Wasit asal Prancis, Francois Letexier, langsung mengaktifkan protokol anti-rasisme. Pertandingan pun sempat dihentikan selama 11 menit sebelum dilanjutkan kembali. Laga itu kemudian dimenangi Madrid 1-0 lewat gol Vinicius pada babak kedua. Namun, selebrasi sang pemain di depan pendukung tuan rumah berujung kartu kuning.

UEFA tak tinggal diam. Otoritas sepak bola Eropa itu menunjuk Inspektur Etika dan Disiplin untuk menyelidiki dugaan perilaku diskriminatif yang dilaporkan kubu Madrid. Kasus ini kembali menempatkan Vinícius di pusat perhatian sepak bola Eropa. Vinicius dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi target pelecehan rasial.

Benfica langsung pasang badan. Lewat akun resmi mereka, klub asal Lisbon itu menyatakan dukungan kepada Prestianni. Pemain berusia 19 tahun tersebut juga memberi klarifikasi di Instagram. Ia membantah keras tudingan tersebut dan menegaskan tidak pernah melontarkan hinaan rasis kepada siapa pun. “Saya sama sekali tidak bersikap rasis. Saya menyesal menerima ancaman atas kesalahpahaman ini,” tulisnya.

Klub bahkan merilis video yang diklaim menunjukkan jarak antarpemain terlalu jauh untuk mendengar jelas ucapan Prestianni. Namun, perdebatan tak berhenti di situ. Lembaga anti-diskriminasi Inggris, Kick It Out, menilai mengalihkan fokus pada selebrasi Vinicius justru bisa menjadi bentuk “gaslighting” terhadap korban dugaan rasisme.

Pelatih Benfica Jose Mourinho mengaku belum bisa memastikan versi mana yang benar. Sementara itu, mantan kapten Benfica asal Brasil, Luisao, terang-terangan membela Vinicius. Ia menyebut tindakan itu rasis jika terbukti dan menjadi sesuatu yang memalukan bagi klub.

Presiden FIFA Gianni Infantino turut angkat suara. Ia mengaku terkejut dan sedih atas dugaan insiden tersebut, sekaligus memuji keputusan wasit mengaktifkan protokol anti-rasisme. “Tak ada tempat bagi rasisme dalam sepak bola maupun masyarakat. Semua pihak harus bertindak tegas,” tegasnya.

Kasus ini kini memasuki tahap investigasi resmi UEFA. 

Read Entire Article
Politics | | | |