REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ulama Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) berharap Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII mampu melahirkan persatuan umat yang lahir dari keikhlasan hati, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional sebagai benteng menghadapi ancaman hybrid war atau perang hibrida yang dinilai semakin kompleks.
Hal itu disampaikan UBN di sela pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).
Menurut UBN, persatuan umat tidak boleh berhenti sebagai kesepakatan formal ataupun slogan semata. Persatuan harus diwujudkan dalam ukhuwah yang tulus serta kerja nyata untuk memperkuat kemandirian bangsa, terutama di sektor ekonomi.
"Harapan saya setelah kongres ini mudah-mudahan persatuan dari hati yang paling tulus betul-betul terjalin ikhlas. Terutama menjadikan ekonomi sebagai prioritas di tengah-tengah hybrid war, perang yang tidak selalu berupa bedil, tetapi melalui ketahanan pangan dan pengambilalihan aset-aset suatu negara sehingga mengurangi kedaulatannya. Mudah-mudahan kehadiran kita bisa menjadi benteng negara yang sesungguhnya," ujar UBN.
Ia menjelaskan bahwa karakter perang modern telah mengalami perubahan. Ancaman terhadap sebuah negara tidak lagi hanya datang melalui invasi militer, tetapi juga melalui pelemahan ekonomi, penguasaan aset strategis, ketergantungan pangan, hingga berbagai bentuk tekanan nonmiliter yang dapat mengurangi kemampuan suatu bangsa menentukan arah kebijakannya sendiri.
Karena itu, UBN menilai penguatan ekonomi umat harus ditempatkan sebagai agenda strategis. Menurut dia, masyarakat yang memiliki ketahanan ekonomi akan lebih siap menghadapi berbagai bentuk tekanan eksternal sekaligus mampu menjaga kemandirian bangsa.
UBN menilai potensi besar umat Islam Indonesia perlu diarahkan untuk memperkuat sektor-sektor produktif, mulai dari perdagangan, industri halal, usaha mikro, hingga pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara lebih profesional. Menurutnya, kekuatan ekonomi yang dibangun dari masyarakat akan menjadi fondasi penting bagi ketahanan nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa persatuan tidak akan bertahan lama apabila tidak diiringi dengan keadilan ekonomi dan kepedulian sosial. Karena itu, forum Kongres Umat Islam Indonesia diharapkan tidak hanya menghasilkan rekomendasi, tetapi juga melahirkan program nyata yang dapat memperkuat kesejahteraan umat di berbagai daerah.
"Umat tidak cukup hanya bersatu di atas kertas, tetapi harus terjalin dengan ikhlas dari hati yang paling tulus. Dari forum Kongres Umat Islam Indonesia ini, harapan besar kita adalah terwujudnya ukhuwah yang nyata sehingga umat mampu berdiri kokoh sebagai benteng hakiki bagi kedaulatan dan keutuhan bangsa," tambahnya.
Menurut UBN, tantangan geopolitik global yang semakin dinamis menuntut umat Islam memiliki kesiapan menghadapi perubahan, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, maupun ketahanan pangan. Seluruh aspek tersebut, kata dia, saling berkaitan dalam memperkuat daya tahan bangsa menghadapi berbagai bentuk ancaman masa depan.
Sementara itu, pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang semula dijadwalkan dibuka Presiden RI Prabowo Subianto diwakili Ketua MPR RI Ahmad Muzani karena Presiden berhalangan hadir menjalankan agenda kenegaraan lainnya.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menjelaskan kehadiran Presiden digantikan oleh Ahmad Muzani sebagai representasi pemerintah dalam pembukaan kongres.
Selain menyampaikan sambutan pembukaan, Ahmad Muzani mengajak seluruh elemen umat Islam terus menjaga persatuan sebagai modal utama menghadapi berbagai persoalan kebangsaan. Menurutnya, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan umat selalu menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keutuhan negara sejak masa perjuangan kemerdekaan.

2 hours ago
6















































