Trump Klaim Perang akan Segera Berakhir, Analis Justru Prediksi Bisa Berlangsung Lebih Lama

10 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan berpotensi berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan banyak pihak. Hal ini disampaikan pengamat energi dan lingkungan, Kurt Cobb, dalam analisisnya yang dimuat di Oilprice.com. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahkan mengeklaim perang akan segera berakhir seiring serangan AS dan Israel yang terus menggempur Iran.

Menurut Cobb, sebelumnya banyak kalangan meyakini ketegangan dengan Iran akan berakhir cepat. Sebagian pihak memperkirakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memilih membuat kesepakatan dengan Iran dan kemudian mengeklaim kemenangan.

Jika kesepakatan tidak terjadi, banyak analis juga memperkirakan rezim Iran akan segera runtuh akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, ada yang memperkirakan pemerintah Iran bisa tumbang akibat pemberontakan rakyat atau terpaksa meminta perdamaian dalam hitungan hari.

Namun kenyataannya, skenario tersebut tidak terjadi.

Cobb menilai sikap santai atau complacency terhadap kemungkinan perang kini telah menghilang. Sejumlah pemimpin dunia mulai khawatir terhadap perkembangan konflik. Menurut Cobb, salah satu kunci memahami konflik ini adalah perbedaan definisi kemenangan antara kedua pihak.

Bagi Iran, kemenangan didefinisikan secara sederhana, yakni rezim yang berkuasa tetap bertahan. Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel memandang kemenangan sebagai jatuhnya pemerintahan Iran saat ini dan digantikan rezim baru yang lebih bersahabat, atau bahkan terpecahnya negara tersebut.

Presiden Trump bahkan disebut menambahkan syarat bahwa satu-satunya hasil yang dapat diterima adalah "menyerah tanpa syarat" dari Iran.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran dalam wawancara dengan NBC menegaskan negaranya tidak melihat alasan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Iran menilai dua perundingan sebelumnya hanya dijadikan kedok untuk melakukan serangan.

"Kami tidak meminta gencatan senjata dan tidak melihat alasan mengapa harus bernegosiasi dengan Amerika Serikat," ujar pejabat Iran tersebut seperti dikutip Cobb.

Situasi ini membuat konflik berpotensi berubah menjadi perang berkepanjangan.

Cobb juga menilai anggapan bahwa Amerika Serikat dan Israel dapat memenangkan perang hanya melalui kekuatan udara bertentangan dengan banyak preseden sejarah. Ia mencontohkan Perang Vietnam, ketika Amerika Serikat menjatuhkan lebih banyak bom dibandingkan total bom pada Perang Dunia II, namun tetap gagal memenangkan perang. Jika konflik terus berlanjut tanpa negosiasi, Iran diperkirakan akan tetap melakukan serangan balasan sembari menunggu kemungkinan invasi darat.

Sebaliknya, banyak pihak percaya Amerika Serikat tidak akan mengirimkan pasukan darat dalam jumlah besar ke Iran. Namun Cobb mengingatkan bahwa jika skenario tersebut berubah, persiapan invasi bisa memakan waktu berbulan-bulan dan menghadapi tantangan geografis Iran yang didominasi wilayah pegunungan.

Menurut dia, invasi semacam itu berpotensi menjadi bencana militer bagi Amerika Serikat.

Jika invasi tidak terjadi, pilihan lain bagi Amerika Serikat dan Israel adalah melakukan pengeboman besar-besaran terhadap Iran. Namun langkah ini berisiko menghancurkan ekonomi Iran tanpa menghasilkan kemenangan yang jelas.

Dalam kondisi tersebut, Iran berpotensi melakukan serangan terhadap infrastruktur energi negara-negara penghasil minyak dan gas di kawasan. Negara-negara yang berpotensi terdampak antara lain Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Jika infrastruktur energi di negara-negara tersebut rusak, dunia dapat menghadapi krisis energi jangka panjang.

Cobb juga mengingatkan bahwa Iran sebelumnya pernah menunjukkan kesediaan melakukan perang ekonomi, termasuk mengganggu lalu lintas energi di Selat Hormuz. Jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak mentah dan gas alam cair dunia. Menurut Cobb, semakin lama konflik berlangsung, dampaknya terhadap harga energi dan ekonomi global akan semakin besar.

Kenaikan harga energi berpotensi memengaruhi berbagai sektor industri, mulai dari pakaian berbahan petrokimia, produksi pangan yang bergantung pada pupuk berbasis gas alam, industri pertambangan, kemasan, ban, hingga pembangkit listrik berbahan bakar gas dan diesel.

Cobb menegaskan sulit memprediksi secara pasti arah konflik Iran. Menurut dia, terlalu banyak variabel yang dapat memengaruhi jalannya perang.

"Manusia jauh lebih sulit diprediksi dibandingkan alam," tulis Cobb.

Read Entire Article
Politics | | | |