REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak perempuan kemungkinan belum menggunakan obat pereda nyeri yang paling efektif untuk mengatasi kram saat menstruasi. Hal itu terungkap dalam sebuah studi di Inggris yang menganalisis data pembelian jutaan konsumen selama hampir satu dekade.
Peneliti, dikutip dari BBC, Rabu (17/6/2026), menemukan parasetamol menjadi obat pereda nyeri yang paling sering dibeli bersamaan dengan produk menstruasi seperti pembalut dan tampon. Padahal, untuk banyak kasus nyeri haid, ibuprofen dinilai lebih efektif karena bekerja langsung pada penyebab kram.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Digital Health itu menganalisis data kartu loyalitas pelanggan dari lebih dari 211 juta transaksi di jaringan toko ritel di Inggris. Data tersebut mencakup pembelian sekitar 3,4 juta konsumen selama periode 2006 hingga 2015.
Hasilnya menunjukkan sekitar setengah dari transaksi pembelian produk menstruasi juga disertai pembelian obat pereda nyeri. Dari jumlah tersebut, sekitar dua pertiga merupakan obat berbahan dasar parasetamol, sementara sepertiganya adalah ibuprofen.
Peneliti dari Universitas Bristol, Dr Anya Skatova, mengatakan data tersebut memberikan gambaran mengenai cara perempuan mengelola nyeri haid, topik yang selama ini relatif jarang diteliti. Menurut dia, tingginya penggunaan parasetamol kemungkinan karena obat tersebut lebih dikenal dan lebih sering digunakan masyarakat.
Meski sama-sama dapat meredakan rasa sakit, cara kerja kedua obat itu berbeda. Ibuprofen termasuk kelompok obat antiinflamasi nonsteroid yang dapat mengurangi peradangan sekaligus menekan produksi prostaglandin, yaitu zat kimia yang memicu kontraksi otot rahim dan menyebabkan kram menstruasi.
Sementara itu, parasetamol bekerja terutama dengan menghambat sinyal nyeri di otak. Karena itu, obat ini lebih sering digunakan untuk meredakan sakit kepala atau menurunkan demam.
Sebagian besar nyeri haid sebenarnya merupakan bagian normal dari siklus menstruasi. Kram muncul ketika otot rahim berkontraksi untuk membantu meluruhkan lapisan dinding rahim.
Pada masa tersebut tubuh menghasilkan prostaglandin. Namun kadar prostaglandin yang lebih tinggi diketahui berkaitan dengan nyeri haid yang lebih berat.
Profesor James Goulding dari Universitas Nottingham yang terlibat dalam penelitian itu menilai temuan tersebut menunjukkan perlunya edukasi kesehatan masyarakat mengenai pilihan penanganan nyeri haid yang tepat. Ia juga menyoroti masih minimnya penelitian mengenai nyeri menstruasi dibandingkan masalah kesehatan lainnya.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa ibuprofen tidak cocok untuk semua orang dan dapat menimbulkan efek samping tertentu. Karena itu, masyarakat disarankan membaca informasi pada kemasan atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsinya.
Organisasi Endometriosis UK menyarankan ibuprofen mulai dikonsumsi sehari sebelum menstruasi atau sebelum nyeri diperkirakan muncul. Tujuannya untuk menekan produksi prostaglandin sejak awal.
Layanan kesehatan Inggris, NHS, juga mengingatkan perempuan yang mengalami nyeri haid sangat berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari agar memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain seperti endometriosis atau fibroid rahim.
Karena itu, nyeri haid tidak selalu boleh dianggap sebagai keluhan biasa. Jika rasa sakit terus berulang, semakin berat, atau mengganggu kualitas hidup, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.

7 hours ago
10















































