Strategi Politik Dua Kaki Indonesia dan Perang Pola Pikir ala Kolonialisasi Modern

10 hours ago 11

loading...

Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial, Budaya, dan Politik. Foto: Istimewa

Agus Widjajanto
Pemerhati Sosial, Budaya, dan Politik

POLITIK dua kaki pernah dilakukan oleh presiden pertama kita sekaligus Proklamator, Soekarno, dalam menghadapi situasi Perang Dingin saat itu. Salah satu manuver paling khas Soekarno adalah Politik Bebas-Aktif ala “Mendayung di antara dua karang”.

Pendekatan ini mencerminkan strategi yang sangat selaras dengan ajaran Sun Tzu: “Menang tanpa bertempur”, yakni melalui diplomasi cerdas dan adu strategi yang presisi, bukan konfrontasi terbuka.

Beberapa langkah jenius Soekarno di era 1950–1965:

1. Manfaatkan Rivalitas Perang Dingin

Soekarno memahami bahwa Amerika Serikat dan Uni Soviet sedang berebut pengaruh global. Ia tidak sekadar menjadi objek tarik-menarik, melainkan memainkan keduanya secara aktif dan terukur. Prinsip Sun Tzu: “Biarkan musuh saling melemahkan, kau ambil untungnya.”

Dari Soviet: Alutsista berat dengan harga murah dan skema kredit lunak. Indonesia memperoleh kapal selam Whiskey-class, cruiser Irian, MiG-17/19/21, bomber Tu-16, dan tank. TNI-AL dan AU menjelma menjadi kekuatan dominan di belahan bumi selatan saat itu, sebuah lompatan strategis yang signifikan.

Dari AS: Bantuan ekonomi melalui Ford Foundation, program pendidikan, serta pelatihan militer. Termasuk juga proyek strategis seperti Jatiluhur, yang memperkuat fondasi pembangunan nasional.

2. Hindari Ketergantungan Total

Sun Tzu mengingatkan: “Jangan gantungkan nasib pada satu sekutu.” Soekarno menolak menjadi satelit Moskow ataupun Washington. Ia menggagas poros Non-Blok melalui KTT Asia-Afrika 1955 di Bandung. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjaga kemandirian, tetapi juga meningkatkan posisi tawar di panggung internasional.

3. Kekuatan Militer untuk Diplomasi

Pembangunan militer tidak semata untuk perang terbuka, melainkan sebagai instrumen deterrence dan tekanan politik. Kasus Trikora 1961–1962 menjadi contoh konkret: dengan dukungan armada Soviet di belakang, Belanda akhirnya bersedia berunding soal Irian Barat tanpa eskalasi perang skala penuh. Ini menunjukkan bahwa kekuatan militer dapat berfungsi sebagai alat diplomasi yang efektif.

4. Bangun Citra Pemimpin Dunia Ketiga

Soekarno memanfaatkan isu anti-kolonialisme untuk menyatukan kekuatan Asia-Afrika. Ini adalah bentuk “serangan psikologis” terhadap lawan—menyerang hati dan pikiran—sejalan dengan ajaran Sun Tzu: “Puncak keahlian perang adalah menundukkan musuh tanpa bertempur.” Dengan demikian, legitimasi moral Indonesia meningkat di mata dunia berkembang.

Risikonya memang besar. Setelah 1965, strategi ini runtuh akibat rapuhnya ekonomi domestik dan ketergantungan terhadap alutsista Soviet yang menjadi masalah ketika hubungan memburuk.

Namun, secara taktik jangka pendek, Soekarno berhasil menjadikan Indonesia disegani dan mampu merebut Irian Barat tanpa perang besar melawan Belanda—sebuah capaian strategis yang tidak sederhana.

Dalam konteks kekinian—di tengah memanasnya eskalasi konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel—serta dinamika geopolitik dan strategi global yang semakin kompleks, politik dua kaki kembali menemukan relevansinya.

Dalam praktiknya, pendekatan ini tampak dimainkan oleh Prabowo, namun dengan konfigurasi papan catur global yang jauh berbeda dibanding era Soekarno. Presiden berkunjung ke Rusia dan dilanjutkan ke Prancis, sementara Menteri Pertahanan menjalin komunikasi intens dengan Amerika Serikat.

Persamaannya dengan era Soekarno:

1. Tidak Mau Jadi Satelit Blok Mana pun

Prabowo aktif menjalin hubungan dengan Washington, Beijing, hingga Moskow. Prinsip bebas-aktif tetap menjadi fondasi, menjaga keseimbangan di tengah rivalitas kekuatan besar.

2. Modernisasi Militer via Multi-sumber

Pembelian Rafale dari Prancis dan F-15EX dari AS, sembari tetap menjaga hubungan dengan China dan Rusia, mencerminkan diversifikasi sumber kekuatan. Ini mengingatkan pada langkah Soekarno yang memadukan bantuan Soviet dan AS.

3. Pakai Militer sebagai Daya Tawar Diplomasi

Read Entire Article
Politics | | | |