Pupuk Kaltim Integrasikan Pertanian dan Agrowisata di Sulsel

4 hours ago 8

loading...

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meresmikan Kampung Sawah Abadi (KSA) Bulutana sebagai destinasi edu agrowisata di Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meresmikan Kampung Sawah Abadi (KSA) Bulutana sebagai destinasi edu agrowisata di Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Langkah strategis ini menjadi bagian dari program Pertanian Bulutana Berkelanjutan, Sejahtera dan Mandiri (PKT BERSERI) untuk mendorong integrasi sektor pertanian dan pariwisata secara berkelanjutan.

"Kami bertanggung jawab bukan hanya terhadap produksi, tapi juga wilayah distribusi kami. Sulawesi Selatan adalah salah satu pasar Pupuk Kaltim di Indonesia Timur, sehingga menjaga kesuburan lahan di sini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial kami," ujar AVP Pembangunan Sosial dan Lingkungan Departemen TJSL Pupuk Kaltim, Uchin Mahazaki dalam keterangan pers, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Pupuk Kaltim Bawa Praktik Konservasi Terumbu Karang ke Forum Dunia

Inisiatif yang bergulir sejak 2023 sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini dirancang melalui peta jalan (roadmap) hingga 2027. Program dimulai dari pengenalan dekomposer, pelatihan teknik budidaya, pengendalian hama, pemupukan berimbang, pembuatan pupuk organik, hingga pembangunan eco-trail sepanjang 230 meter untuk mempermudah mobilitas petani di dataran tinggi.

Pada 2025 dan 2026, fokus pendampingan diperluas ke penguatan kelembagaan, pengelolaan pascapanen, penyediaan mesin kompos, serta pengembangan infrastruktur dan branding kawasan. Program ini ditargetkan menjadi pusat pembelajaran agroeduwisata berdaya saing tinggi pada 2027 melalui standardisasi kawasan, sertifikasi Desa Wisata Hijau, serta pembuatan skema insentif konservasi sawah.

Dampak positif program dirasakan langsung oleh masyarakat setempat, terutama dalam hal peningkatkan hasil produksi. Produktivitas lahan yang sebelumnya rata-rata 4 ton per hektare (Ha) naik menjadi 6–7 ton/Ha, sementara frekuensi panen meningkat dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.

Ketua Pengelola KSA, Syafruddin, mengungkapkan keberadaan fasilitas eco-trail sangat membantu proses pascapanen yang dulunya menjadi tantangan utama. "Setelah ada jembatan, jika panen hari ini, malamnya bisa langsung sampai di rumah. Itu yang membuat kita bisa langsung laksanakan tiga kali panen dalam satu tahun," tutur Syafruddin.

Program ini turut melahirkan ekosistem wisata terintegrasi yang melibatkan kelompok Pemuda Bulutana dalam pengelolaan kunjungan wisatawan. Sebagian pendapatan dari pengelolaan wisata dialokasikan kembali untuk membantu pembiayaan benih, pupuk, hingga pembayaran pajak lahan milik para petani.

Read Entire Article
Politics | | | |