Skandal Chat Pelecehan Seksual FH UI, Pelaku Disebut Kehilangan Empati dan Kontrol Diri

9 hours ago 14

Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fathimah Azzahra (tengah) bersama Ketua BEM Fakultas Hukum UI, Anandaku Dimas Rumi (kanan) dan Kuasa Hukum korban Timotius Rajagukguk (kiri) menyampaikan keterangan pers terkait kasus kekerasan seksual di gedung Pusgiwa UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4/2026). BEM Ul mengutuk keras dan tegas atas tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh 16 terduga pelaku dari mahasiswa Fakultas Hukum Ul serta mendesak pihak rektor untuk segera mengeluarkan SK pemberhentian atau drop out terhadap pelaku dan mengimbau masyarakat untuk menjaga dan menghargai privasi korban.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, menanggapi dugaan pelecehan seksual berbasis digital yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Ul. Menurutnya, akar persoalan dari perilaku tersebut terletak pada lemahnya stimulasi moral.

Dia mengatakan moral berfungsi sebagai dasar bagi manusia untuk membedakan mana yang baik dan buruk, sekaligus menentukan sikap dan pola pikir. Individu yang memiliki moral tidak akan melontarkan pernyataan seksis bahkan di ruang privat seperti grup chat.

"Ketika moral tidak terstimulasi dengan baik, individu tidak memahami dampak dari perilakunya, termasuk saat melecehkan orang lain. Mereka juga tidak akan terlibat dalam praktik locker room chat seperti itu," kata Prof Rose saat dihubungi Republika, Selasa (14/4/2026).

Prof Rose mengungkap tiga aspek moral yang tidak berkembang dalam diri pelaku pelecehan seksual. Pertama adalah empati yakni kemampuan memahami perasaan, pikiran, dan keinginan orang lain. Tanpa empati, seseorang tidak menyadari bahwa pembicaraan mengenai tubuh atau seksis dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan dampak besar.

"Kalau mereka punya empati, mereka akan berpikir, apakah korban akan nyaman diperlakukan seperti ini atau malah terganggu?" kata Prof Rose.

Aspek kedua adalah kontrol diri. Menurutnya, individu yang tidak mampu mengendalikan dorongan dalam dirinya cenderung mudah terbawa arus percakapan, termasuk dalam lingkungan tongkrongan atau grup chat.

Ketiga adalah tidak terstimulasi dengan baiknya nurani, yang di dalamnya mencakup nilai-nilai seperti kebaikan, keadilan, rasa hormat, dan toleransi. Ketiadaan nilai-nilai ini membuat individu tidak mempertimbangkan dampak negatif dari ucapannya.

"Ketika seseorang tidak memiliki tiga aspek utama moral, maka dia akan berani untuk melecehkan orang lain, melecehkan perempuan," kata Prof Rose.

Read Entire Article
Politics | | | |