Sidang Isbat Awal Ramadhan 2026 di Hotel Borobudur, Ini Alasan Kemenag

8 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap tahun biasanya Kementerian Agama (Kemenag) selalu menggelar Sidang Isbat di Kantor Kemenag, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Namun, untuk tahun ini Kemenag akan menggelar sidang Isbat awal Ramadhan 2026 di Hotel Borobudur. 

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat mengatakan, sidang penentuan awal Ramadhan tahun ini digelar di hotel karena sarananya tidak mendukung. 

"Iya betul di Hotel Borobudur katena sarana pendukung untuk pelaksanaan Sidang Isbat tidak dapat digunakan," ujar Arsad saat dikonfirmasi Republika.co.id, Senin (16/2/2026).

Selain itu, menurutnya, lokasi parkir di depan kantor Kemenag Jl MH Thamrin juga tidak dapat digunakan lantaran ada proyek pembangunan Stasiun LRT. 

"Dan depan gedung Kemenag tidak bisa dipakai parkir mobil-mobil teknis stasiun TV karena sedang ada proyek pembangunan stasiun LRT," ujar Arsad.

Sidang Isbat ini akan menentukan kapan umat Islam di Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa. Dalam sidang ini, Kemenag akan melibatkan berbagai pihak terkait, seperti perwakilan ormas Islam, perwakilan kedubes negara-negara Islam, MUI, BMKG, ahli falak, DPR dan perwakilan Mahkamah Agung.

Ia menjelaskan, pelaksanaan Sidang Isbat terdiri dari tiga rangkaian utama. Pertama, pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi (hisab). Kedua, verifikasi hasil rukyatul hilal yang dilakukan di 37 titik pemantauan di seluruh Indonesia.

Untuk menentukan awal Ramadhan, menurut Arsyad, Kemenag juga akan mengerahkan sejumlah ahli ke lokasi-lokasi yang dinilai potensial untuk melihat hilal secara jelas, termasuk ke tempat-tempat observasi bulan.

“Kalau memungkinkan, tahun ini kita menjadikan masjid IKN yang telah diresmikan beberapa waktu lalu sebagai tempat pelaksanaan rukyatul hilal,” kata Arsad.

Terkait potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan tahun ini, Arsad menjelaskan bahwa perbedaan awal Ramadhan dapat terjadi karena adanya perbedaan pendekatan dalam menentukan awal bulan hijriah, baik melalui metode hisab, rukyat (hilal), maupun pendekatan kalender hijriah global.

“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama. Ada yang menggunakan pendekatan metode hisab, ada yang menggunakan pendekatan hilal, kemudian ada yang terbaru mempergunakan dengan KHGT,” ujar Arsyad dalam konferensi pers "Joyful Ramadhan Mubarak" di Jakarta, Selasa (10/2/2026) lalu.

Menurut dia, perbedaan antara konsep hilal lokal dan global memang berpotensi menghasilkan penetapan awal Ramadhan yang tidak sama. Namun, pemerintah memiliki mekanisme Sidang Isbat sebagai forum musyawarah untuk menyatukan pandangan.

Read Entire Article
Politics | | | |