REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — Diana Kalera Lena selalu beranggapan jika perempuan Sumba harus bisa menenun. Diana yang memang dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), menganggap ketrampilan menenun merupakan tradisi yang mengakar kuat ke dalam kehidupan perempuan Sumba sejak usia belia.
“Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu butuh proses panjang. Sejak usia 6 tahun saya sudah membantu Ibu saya, dan mulai menenun sendiri pada usia 17 tahun,” ujar Diana dalam perbincangan melalui sebuah program siniar di Tangerang yang disampaikan lewat keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).
Diana merupakan salah seorang peserta program pelatihan wastra warna alam, Bakti BCA. Lewat kolaborasi dengan Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI), perusahaan memberikan pembinaan kepada kelompok penenun di Sumba.
Diana menjadi salah satu penenun yang dibina melalui program tersebut. Program pembinaan ini melibatkan 50 peserta dari 4 komunitas, yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, dengan rentang usia 25 - 45 tahun.
Peserta didominasi penenun perempuan serta didukung oleh keterlibatan laki-laki sebagai pendukung ekosistem, khususnya pada pengembangan motif dan pengolahan bahan warna alam. Diana memiliki peran penting dalam kolaborasi tersebut.
Ia merupakan penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dengan program pelatihan wastra warna alam. Diana tak ragu mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta program itu.
Menurut Diana, keikutsertaan dalam pelatihan wastra warna alam membawa manfaat tidak sedikit. Salah satunya adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami, yang selama ini tidak diwariskan secara tertib meskipun merupakan bagian dari warisan leluhur. “Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan,”kata dia.

6 hours ago
7















































