Oleh Ahmadie Thaha, Kolomnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Islamabad, akhir pekan itu, para diplomat Amerika Serikat dan Iran duduk hampir tanpa jeda selama sekitar 21 jam. Ruang perundingan menjadi seperti ruang ICU politik: penuh ketegangan, minim senyum.
Setiap kata diukur seperti dosis obat yang bisa menyelamatkan atau justru membunuh harapan. Mereka datang membawa satu misi besar: menghentikan konflik dan menambal kembali kepercayaan yang sudah lama retak.
Tetapi seperti banyak perundingan besar sebelumnya, mereka pulang tanpa kesepakatan. Di ujung maraton diplomasi itu, satu titik krusial muncul dan tak bisa dijembatani: program nuklir Iran, lebih tepatnya soal pengayaan uranium.
Amerika Serikat mengajukan syarat keras: Iran harus menghentikan pengayaan uranium-235 selama 20 tahun. Iran menjawab dengan nada lebih realistis menurut versinya sendiri: maksimal 5 tahun.
Dua angka ini tampak sederhana, tetapi di beda angka itulah seluruh pembicaraan runtuh. Barulah setelah itu kita memahami: ini bukan sekadar selisih 15 tahun. Inilah perbedaan cara mereka melihat masa depan.
Bagi Washington, 20 tahun berarti cukup waktu untuk “melumpuhkan” kemampuan nuklir Iran secara strategis. Sementara bagi Teheran, 5 tahun sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan itikad tanpa kehilangan kedaulatan.
Di titik inilah meja perundingan berubah menjadi medan tarik-menarik kehendak. Masing-masing pihak bersikukuh dengan angka pilihan. Tak sepakat, akhirnya mereka pulang dengan hati panas, sampai-sampai Donald Trump mengancam macam-macam.
Masalahnya terdengar teknis: pengayaan uranium. Tetapi seperti kopi pahit tanpa gula, di balik istilah ilmiah itu tersembunyi rasa getir geopolitik. Kita jadi berpikir, perang yang berotot kini seolah berpindah ke soal uranium.
Uranium, unsur yang bersarang di perut bumi, tiba-tiba menjadi simbol ambisi manusia yang tak pernah kenyang. Ia bisa menyalakan lampu rumah, tetapi juga bisa mematikan peradaban dalam satu tombol.
Sebentar, sebelum kita terlalu jauh terbawa arus politik, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan tokoh utama drama ini: uranium. Makhluk ciptaan Allah Swt ini begitu hebat sekaligus menakutkan.
Ia bukan makhluk misterius dari langit, melainkan unsur alam yang ditemukan dalam batuan, tanah, bahkan air di berbagai belahan bumi. Negara-negara menambangnya dari perut bumi seperti menambang emas.
Hanya saja hasil tambang itu bukan perhiasan, melainkan potensi energi dan kehancuran sekaligus. Lalu uranium-235? Angka itu bukan kode rahasia, melainkan jumlah partikel dalam inti atomnya: 92 proton ditambah 143 neutron, total 235.
Varian lain seperti uranium-238 memiliki neutron lebih banyak, lebih stabil namun kurang reaktif. Justru uranium-235 yang lebih “ringan” ini yang mudah dibelah, mudah bereaksi, dan karena itu menjadi bahan bakar reaktor sekaligus bahan dasar senjata nuklir.
Secara ilmiah, persoalannya sederhana. Uranium-235 yang tadinya hanya 0,72 persen, diputar dalam alat sentrifugal hingga kadarnya naik. Di bawah 20 persen, ia menjadi bahan bakar listrik. Di atas itu, ia mulai beraroma militer.
Dan ketika pengayaan melewati angka 90 persen, urainium berubah menjadi mimpi buruk umat manusia: bahan senjata nuklir. Ilmu fisika menjelaskan prosesnya dengan rumus. Politik menjelaskannya dengan paranoia.
Iran hari ini berdiri di titik yang membuat dunia gelisah. Sekitar 440 kilogram uranium telah mereka miliki dan mereka perkaya hingga 60 persen. Angka itu bukan sekadar statistik; ia seperti bensin yang sudah dituang setengah ke dalam jeriken.
Selanjutnya, tinggal menunggu siapa yang memegang korek api. Secara teoritis, jumlah itu cukup untuk lebih dari sepuluh hulu ledak nuklir. Tetapi teori, seperti biasa, selalu lebih jujur daripada niat manusia.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

4 hours ago
8

















































