Sang Maestro The Fed Amerika Alan Greenspan Wafat di Usia 100 Tahun

1 hour ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pria yang pernah dijuluki "Maestro" ekonomi Amerika itu akhirnya pergi. Namun bahkan setelah kematiannya pada usia 100 tahun, perdebatan tentang warisannya belum juga berakhir.

Alan Greenspan tidak sekadar memimpin bank sentral Amerika Serikat. Selama hampir dua dekade, ia menjadi salah satu orang paling berpengaruh di dunia, sosok yang ucapannya mampu menggerakkan pasar, mengguncang mata uang, dan mengubah arah ekonomi global.

Ketika kabar kematiannya diumumkan pada Senin (22/6/2026) waktu setempat, banyak orang mengenangnya sebagai arsitek kemakmuran Amerika pada dekade 1990-an.

Namun tidak sedikit yang mengingatnya sebagai salah satu tokoh yang ikut membuka jalan menuju krisis keuangan paling dahsyat sejak Depresi Besar.

Di situlah paradoks Alan Greenspan bermula. Ia dipuja sebagai penyelamat. Lalu dicela sebagai penyebab masalah.

Istrinya, Andrea Mitchell, mengumumkan bahwa Greenspan meninggal dunia di rumah mereka akibat komplikasi penyakit Parkinson.

"Dia adalah sosok raksasa yang membantu membentuk ekonomi AS selama beberapa dekade di bawah presiden dari kedua partai, tetapi selalu jujur dalam mengakui kesalahannya," kata Mitchell.

Bagi generasi yang tumbuh pada 1990-an, Greenspan adalah simbol stabilitas.

Saat pasar saham runtuh dalam peristiwa Black Monday pada Oktober 1987, ia baru dua bulan menjabat Ketua Federal Reserve. Banyak yang memperkirakan kepanikan akan menyeret Amerika ke dalam krisis besar.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Greenspan bergerak cepat. Federal Reserve menyuntikkan likuiditas, menenangkan pasar, dan memulihkan kepercayaan investor. Dari situlah reputasinya mulai dibangun.

Tetapi itu baru awal. Dalam tahun-tahun berikutnya, ia memimpin ekonomi Amerika melewati resesi awal 1990-an, krisis finansial Asia, gejolak Rusia, pecahnya gelembung dot-com, hingga guncangan ekonomi setelah serangan 11 September 2001.

Di Washington, pengaruhnya melampaui seorang bankir sentral biasa. Sebastian Mallaby dalam biografinya menggambarkan Greenspan sebagai tokoh yang mampu memengaruhi presiden, menteri, dan pengambil keputusan tanpa banyak orang menyadari dari mana arah kebijakan itu berasal.

Bob Woodward bahkan menjulukinya "Maestro". Majalah Time memasukkannya ke dalam kelompok yang disebut "Komite untuk Menyelamatkan Dunia".

Pertanyaan besar kemudian muncul. Bagaimana seorang tokoh yang dipuja hampir seperti selebritas ekonomi berubah menjadi sasaran kritik global?

Jawabannya muncul beberapa tahun setelah ia meninggalkan jabatannya. Pada 2007, gelembung perumahan Amerika mulai pecah. Bank-bank besar berguncang.

Lembaga keuangan raksasa tumbang. Pasar kredit membeku. Dunia memasuki krisis keuangan global 2008. Di sinilah cerita berubah.

Banyak ekonom mulai melihat kembali kebijakan Greenspan selama bertahun-tahun. Mereka menuduh suku bunga rendah yang dipertahankan terlalu lama telah mendorong spekulasi besar-besaran di sektor perumahan.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
Politics | | | |