REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV — Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan armada Global Sumud Flotilla 2.0 yang berupaya menembus blokade laut Gaza telah dihentikan. Lebih dari 400 aktivis yang berada dalam rombongan Global Sumud Flotilla disebut tengah dibawa menuju Israel.
Kapal Lina dan Kasri Sadabad adalah yang terakhir dibajak, merujuk informasi dari panitia Global Sumud Flotilla pada Rabu dini hari WIB. Ini juga berarti semua WNI telah diculik Israel dari perairan Internasional.
Kasri Sadabaad disertai oleh Asad Aras Muhammad dari Spirit of Aqso serta Hendro Prasetyo dari SMART 171. Pada malam yang sama, Kapal Zefiro yang berisi dua relawan Dompet Dhuafa Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu juga dibajak.
Kapal pertama yang dinaiki WNI dan dibajak IDF adalah kapal Josef yang disertai relawan Rumah Zakat, Andi Angga Prasadewa. Kapalnya terkonfirmasi dibajak pada Senin sore WIB.
Pada Senin malam, terkonfirmasi Israel menculik jurnalis Republika Bambang Noroyono dan penumpang lainnya kapal BoraLize. Saat yang bersamaan, terkonfirmasi IDF juga menculik Jurnalis Republika Thoudy Badai, jurnalis Tempo Andre Prasetyo, dan jurnalis lepas Rahendro Herubowo dari kapal Ozgurluk.
The Times of Israel melansir pasukan komando Israel telah mencegat seluruh kapal dalam armada tersebut yang berjumlah lebih dari 50 kapal. Siaran langsung di situs Global Sumud Flotilla memperlihatkan tentara Israel menaiki kapal-kapal aktivis saat para peserta mengenakan jaket pelampung dan mengangkat tangan mereka.
Dalam tayangan itu juga terlihat kamera-kamera yang terpasang di kapal dirusak oleh tentara Israel.
“Flotilla pencitraan lainnya telah berakhir,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel melalui akun X. Israel mengklaim sebanyak 430 aktivis telah dipindahkan ke kapal-kapal Israel dan dibawa menuju wilayah Israel untuk bertemu perwakilan konsuler masing-masing negara.
Israel juga menuduh armada kemanusiaan tersebut hanya sebagai aksi propaganda yang melayani Hamas. Pemerintah Israel menegaskan akan terus mempertahankan blokade laut Gaza yang mereka sebut sah menurut hukum internasional.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyerukan peninjauan mendesak terhadap penggunaan kekuatan oleh Israel. Seruan itu muncul setelah aktivis Italia melaporkan tentara Israel menembakkan peluru ke arah kapal-kapal flotilla, sebagaimana juga diberitakan media berbahasa Ibrani.
Penyelenggara flotilla mengeklaim tentara Israel menembaki sedikitnya lima kapal saat proses pencegatan berlangsung sehingga menyebabkan kerusakan pada sejumlah kapal.
Namun, Kementerian Luar Negeri Israel membantah penggunaan peluru tajam. Dalam pernyataan sebelumnya pada Selasa, Israel menyebut pasukannya hanya menggunakan “cara-cara nonmematikan” setelah memberikan beberapa kali peringatan.
“Tidak ada amunisi tajam yang ditembakkan kapan pun,” demikian pernyataan Israel. Mereka mengklaim tindakan itu diarahkan kepada kapal, bukan kepada para aktivis, sebagai bentuk peringatan.
Menurut situs Global Sumud Flotilla, militer Israel mulai menghentikan armada tersebut sekitar 167 mil atau 268 kilometer dari pesisir Gaza. Kapal-kapal itu diketahui berangkat dari Turki pekan lalu.
Pihak flotilla mendesak pemerintah dan para pemimpin dunia menuntut “pembebasan segera tanpa syarat” seluruh aktivis yang ditahan serta memastikan mereka mendapatkan bantuan hukum dan akses konsuler tanpa penundaan.

5 hours ago
8

















































