Proyek KAAN: Antara Daulat Teknologi Turki dan Ujian Realitas

3 hours ago 7

Oleh : Rahmad Budi Harto, lead consultant Kiroyan Partners

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Pekan lalu, seorang kawan yang bekerja di sebuah lembaga riset kedirgantaraan membagi sebuah foto yang hari-hari ini sedang viral di Turki, memperlihatkan hangar Turkish Aerospace Industries (TUSAŞ) dengan tiga purwarupa pesawat tempur KAAN, salah satunya P0 yang terbang perdana tepat dua tahun lalu. Foto itu bukan hanya memperlihatkan ukuran KAAN yang masif, tetapi juga agresivitas Turki mengejar kemandirian penuh dalam proyek jet tempur generasi kelima.

Memasuki tahun ke-10, Proyek KAAN yang ditargetkan masuk lini produksi pada 2028 ini telah menarik minat sejumlah negara Muslim seperti Arab Saudi, Pakistan, dan juga Indonesia. Seperti Turki, ketiga negara itu juga memiliki aspirasi untuk lebih bebas dari kontrol teknologi Barat, terutama Amerika Serikat, di bidang pertahanan. 

Baru-baru ini Republika mengutip pakar pertahanan India yang menyebut bahwa Proyek KAAN—berpotensi menjadi pemicu munculnya blok pertahanan negara-negara Muslim. Namun, dalam dunia yang semakin terfragmentasi secara geopolitik, gagasan tentang “kedaulatan teknologi” lebih menarik secara politik dibandingkan gagasan blok militer Muslim yang sulit terwujud karena perbedaan kepentingan geopolitik masing-masing negara.

Apa pun kacamata yang akan kita pakai untuk melihatnya, Proyek KAAN baru akan bermakna bila berhasil mewujud. Masalahnya, dalam industri dirgantara militer, gagasan kedaulatan teknologi—ataupun mimpi blok militer Muslim—lebih ditentukan oleh kedalaman kemampuan manufaktur, ketahanan rantai pasok, dan kemampuan memproduksi teknologi kompleks secara konsisten dalam jangka panjang. Nah, disinilah Turki sedang diuji.

Proyek KAAN bisa dibilang sebagai puncak dari ambisi panjang Turki untuk mandiri di teknologi militer. Bagi Ankara, ketergantungan teknologi militer menciptakan kerentanan strategis, terutama karena kepentingan geopolitiknya tak selalu sejalan dengan kehendak Washington. 

Ambisi itu lahir dari pengalaman panjang menerima pembatasan akses teknologi persenjataan oleh AS—meskipun negeri itu merupakan anggota NATO yang memainkan peran kunci dalam Perang Dingin. Sejak embargo 1974 pasca-intervensi di Siprus hingga dikeluarkan dari konsorsium F-35 pada 2019, Turki berulang kali menghadapi pembatasan akses teknologi militer Barat.

Sebelum KAAN, Turki telah mampu mengembangkan berbagai platform pertahanan, dari drone hingga fregat dan kendaraan lapis baja. Keanggotaan NATO memberi Turki jalan lebar untuk belajar dari kontraktor pertahanan Eropa dan AS, mulai dari lisensi radar Thales sampai pembuatan komponen dan perakitan mesin jet GE F110 untuk armada F-16 milik AU Turki. Namun, membangun jet tempur generasi kelima adalah level yang berbeda.

Klub Sangat Eksklusif

Menyebut KAAN sebagai proyek ambisius sebetulnya terlalu merendahkan (understatement). Hingga kini, hanya tiga negara yang benar-benar mengembangkan pesawat tempur generasi kelima secara independen: Amerika Serikat (F-22, F-35), China (J-20), dan Rusia (Su-57). Bahkan negara-negara Eropa dengan tradisi dirgantara panjang seperti Inggris, Prancis, dan Jerman memilih jalur konsorsium melalui GCAP dan FCAS untuk mengurangi risiko finansial dan teknis.

Pengembangan pesawat tempur terbaru tak hanya soal anggaran yang dapat menembus puluhan miliar dolar AS. Pesawat generasi kelima adalah platform yang kompleks karena harus sulit terdeteksi radar, mampu menggabungkan informasi dari berbagai sensor, dan mengelola senjata serta sistem elektroniknya secara otomatis dan terpadu.

Selain ketiga negara itu, hanya Turki dan Korea Selatan yang nekad mengembangkan sendiri pesawat tempur generasi terbaru. Mengingat Indonesia masih terlibat dalam proyek KF-21, menjadikannya sebagai pembanding dengan KAAN menjadi relevan untuk melihat perbedaan pendekatan dan tingkat kompleksitas yang dihadapi masing-masing negara dalam mengejar kedaulatan teknologi dirgantara.

Dua Jalan Berbeda

Korea Selatan memilih jalur bertahap dalam pengembangan KF-21. Pesawat ini dikategorikan sebagai generasi 4.5, bukan langsung generasi kelima penuh, meskipun bisa dikembangkan menjadi pesawat siluman setelah Korea Selatan menguasai teknologi material penyerap pancaran radar (radar absorbent material). KF-21 juga dirancang sebagai penempur multi-peran kelas menengah yang akan ditenagai mesin turbofan GE F414 dari AS yang sudah teruji dipakai sejumlah pesawat tempur seperti F-18 dan Gripen. 

Lockheed Martin terlibat sebagai mitra teknis KAI, memberikan asistensi desain dan integrasi sistem sebagai bagian dari offset pembelian F-35, bantuan pengembangan algoritma kendali terbang, dan integrasi sistem avionik. Pendekatan ini lebih metodis dan relatif rendah risiko, terutama karena KAI bisa belajar langsung dari kampiun pembuat pesawat tempur generasi kelima. Tujuan utamanya adalah pengembangan cepat KF-21 untuk menggantikan puluhan penempur generasi ketiga yang masih dioperasikan AU Korea Selatan.

Turki memilih jalur berbeda. KAAN sejak awal diposisikan sebagai penempur kelas berat generasi kelima dengan misi superioritas udara, atau sekelas F-15 dan Su-30 untuk generasi keempat dan F-22 untuk generasi kelima. 

TUSAŞ sebagai kontraktor utama KAAN memegang kendali pengembangan dengan BAe Systems (Inggris) dan SAAB (Swedia) berperan terbatas sebagai konsultan untuk memandu agar proyek berjalan di jalurnya. Ambisinya jelas: penguasaan teknologi maksimum dan pembebasan dari ketergantungan terhadap NATO.

Strategi ini lebih berani, namun jauh lebih berisiko, terutama mengingat pengalaman TUSAŞ saat Proyek KAAN dimulai secara resmi pada 2016 baru sebatas merakit dan memodernisasi F-16, membuat pesawat latih ringan turboprop, serta membangun drone. 

Mesin Jet: Titik Penentuan

Seperti Korea Selatan, Turki juga mengembangkan sejumlah sistem utama yang menyusun sebuah pesawat tempur termasuk radar AESA, sistem kendali terbang, dan avionik pintar. Tetapi, dari seluruh komponen utama itu, ada satu yang paling menentukan: mesin jet.

Turki pada awal 2025 mengumumkan pengembangan mandiri mesin jet TF35000 yang akan menggerakkan KAAN. TUSAŞ Engine Industries (TEI) memang memiliki pengalaman panjang dalam manufaktur komponen utama dan perakitan mesin jet GE F110 untuk F-16 yang dipakai untuk purwarupa KAAN. TEI juga memiliki program pengembangan mesin jet sendiri meski baru kelas tenaga kecil (low thrust) untuk helikopter, drone, dan pesawat latih jet. Namun, semua produk tersebut belum terbukti andal dalam operasi jangka panjang.

Saat mesin terbarunya TF10000 masih dalam tahap pengembangan, Turki sudah nekat mengembangkan mesin turbofan kategori high-thrust atau kelas berat. Bila sukses, TF35000 akan sekelas dengan PW F119 milik F-22, Saturn AL-41F1 di Su-57 (Rusia), dan WS-15 pada J-20 (China). 

Dengan target produksi pada 2032, TF35000 adalah risiko terbesar (Aes’ heel) bagi ambisi daulat teknologi militer Turki dan prospek ekspor KAAN ke negara-negara yang juga ingin lebih bebas dari bayang-bayang AS. Ini relevan bagi Indonesia, yang mensyaratkan platform bebas pembatasan ekspor teknologi AS (ITAR-free) dalam rencana akuisisi 48 unit KAAN.

Turki memang telah menguasai sejumlah teknologi penting, termasuk material paduan kristal tunggal (single crystal alloy) untuk bilah turbin yang mampu bertahan pada suhu ekstrem, agar KAAN bisa supercruise. Namun, itu baru tahap awal. Dalam industri mesin jet, baik sipil maupun militer, tantangan sesungguhnya terletak pada konsistensi produksi massal dengan toleransi presisi ekstrem dan reliabilitas ribuan jam terbang.

China dengan kemampuan manufaktur mumpuni dan anggaran riset raksasa membutuhkan waktu panjang untuk mematangkan WS-10 dan WS-15, bahkan tetap mengandalkan mesin Rusia pada tahap awal operasional J-20. Sejarah menunjukkan bahwa mesin jet bukan sekadar proyek rekayasa (engineering), tetapi ujian kesabaran industri.

Jika TF35000 mengalami keterlambatan signifikan, KAAN akan tetap bergantung pada GE F110. Konsekuensinya lebih terasa di tataran strategis. Calon pemakai potensial termasuk Indonesia, yang diharapkan bisa memperingan beban finansial pengembangan KAAN, akan menunda pembelian dan menunggu sampai TF35000 sudah cukup andal.

Antara Simbol dan Realitas

KAAN adalah proyek yang sarat simbolisme. Ia mencerminkan tekad Turki untuk keluar dari bayang-bayang ketergantungan dan masuk ke klub elite pembuat jet tempur generasi kelima. Mesin jet TF35000 sebagai komponen kunci terakhir yang belum dikuasai mulai dikembangkan setelah Turki ditendang keluar dari konsorsium F-35. Di saat yang sama, negosiasi dengan Rolls Royce untuk kemitraan dan akses teknologi mesin jet bertenaga tinggi berlangsung alot.

Namun, sejarah industri pertahanan menunjukkan bahwa kedaulatan teknologi bukan diukur dari ambisi semata, melainkan dari disiplin industri. Korea Selatan mungkin ketinggalan start dalam pengembangan mesin jet. Proyeknya baru diumumkan pada akhir 2025 dengan horizon panjang: menargetkan produksi mesin turbofan untuk KF-21 dalam 14 tahun. 

Sebagai sekutu utama AS di luar NATO, Korea Selatan memang berada di posisi yang lebih menguntungkan daripada Turki dengan akses istimewa ke teknologi sensitif. Namun, keunggulan utama Korea Selatan adalah pada kapasitas industri yang masif dan basis manufaktur presisi yang matang. Ini ditopang pengalaman ekstensif Hanwha Aerospace dalam produksi dan perakitan beragam mesin jet Barat, baik militer maupun sipil. Melalui pendekatan yang lebih bertahap dan terukur dengan tidak memaksakan lompatan ke kelas tertinggi—menargetkan mesin jet needle thrust—Korea Selatan memiliki peluang sukses lebih besar diproduksi massal.

Meski demikian, Turki juga tidak berangkat dari nol dalam pengembangan Proyek KAAN, mesin jetnya. Jika berhasil mengatasi tantangan dalam memproduksi massal TF35000 dengan reliabilitas tinggi, Turki tak hanya menjadikan KAAN sekadar simbol politik, melainkan lompatan struktural dalam sejarah industri pertahanannya. Sebaliknya, jika TF35000 menjadi bottleneck yang berkepanjangan, proyek yang biayanya diperkirakan tembus 40 miliar dolar AS ini berisiko menjadi contoh mahal tentang betapa sulitnya menaklukkan teknologi paling kompleks di industri dirgantara modern. 

Tantangannya terletak pada kedalaman ekosistem industri yang memang membutuhkan waktu panjang untuk matang. Turki perlu mengatasi masalah fundamental ini sebelum kita mulai bicara soal blok militer negara-negara Muslim.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |