Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA

15 hours ago 11

loading...

Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola, tetapi juga berpotensi menjadi yang paling kompleks dari sisi ekonomi dan politik / Foto: BBC

JAKARTA - Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola, tetapi juga berpotensi menjadi yang paling kompleks dari sisi ekonomi dan politik. Untuk pertama kalinya, turnamen diikuti 48 negara dan digelar di tiga tuan rumah sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Ironisnya, ketiga negara tersebut saat ini tengah menghadapi ketegangan perdagangan dan sedang menegosiasikan ulang perjanjian ekonomi kawasan Amerika Utara. Di luar lapangan, situasi geopolitik global juga ikut membayangi turnamen.

Ketegangan internasional, konflik antarnegara, hingga dampaknya terhadap harga energi dunia membuat Piala Dunia kali ini jauh lebih dari sekadar sepak bola. Namun perhatian terbesar justru tertuju pada aspek ekonomi turnamen yang disebut-sebut telah mengubah wajah Piala Dunia secara drastis.

Baca Juga: Terkenal fanatik, Suporter Argentina Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 menjadi ajang uji coba terbesar FIFA dalam menerapkan sistem harga dinamis (dynamic pricing), yakni harga tiket yang terus berubah mengikuti permintaan pasar. Akibatnya, harga tiket melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mengutip laporan BBC, Jumat (12/6/2026), tiket pertandingan fase grup untuk laga-laga populer bisa mencapai sekitar USD1.000, sementara tiket final dijual hingga puluhan ribu dolar.

Bahkan biaya transportasi menuju stadion ikut melonjak tajam. Di New Jersey misalnya, tiket kereta yang biasanya hanya sekitar USD13 naik menjadi hampir USD100 selama turnamen berlangsung. Situasi ini membuat banyak penggemar merasa biaya menikmati Piala Dunia semakin sulit dijangkau.

Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya yang mengandalkan pembangunan stadion baru dan proyek infrastruktur besar, Piala Dunia 2026 memanfaatkan stadion-stadion NFL yang sudah ada. Model ini membuat FIFA tidak perlu mengeluarkan biaya pembangunan besar.

Read Entire Article
Politics | | | |