Pesantren Siap Pimpin Revolusi Wakaf Produktif

7 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pesantren didorong menjadi motor utama kebangkitan wakaf produktif nasional. Komitmen tersebut mengemuka dalam The 4th International Conference on Pesantren (ICOP) 2026 yang digelar Universitas Darunnajah di GOR Darunnajah, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Mengusung tema “The Impact Mission: Unleashing the Power of Endowment & Waqf Funds for Islamic Education, Business, and Science & Technology”, forum internasional ini menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, ribuan santri Darunnajah, ratusan kiai, serta akademisi dan pakar wakaf dari berbagai negara.

Konferensi tersebut menyoroti pentingnya dana abadi dan wakaf sebagai instrumen keuangan Islam yang mampu menopang kemandirian pendidikan, memperkuat sektor usaha, serta mendorong kemajuan sains dan teknologi.

Presiden Universitas Darunnajah Hadiyanto Arief menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam harus kembali menjadi pelopor dalam pengelolaan wakaf yang profesional dan berdampak luas.

“Sudah saatnya umat Islam, dan pesantren khususnya, kembali memimpin dalam mengelola wakaf secara profesional, produktif, dan berdampak. Itulah impact missionyang menjadi panggilan konferensi ini,” ujar Hadiyanto.

Menurut dia, konsep dana abadi yang menopang sejumlah universitas ternama dunia sesungguhnya memiliki akar kuat dalam tradisi wakaf Islam. Ia mencontohkan Al Azhar yang mampu bertahan lebih dari seribu tahun berkat sistem wakaf yang kokoh.

Hadiyanto juga memaparkan pengalaman Darunnajah dalam mengelola wakaf. Berawal dari lahan seluas 700 meter persegi, kini Darunnajah telah mengembangkan lebih dari 1.200 hektare lahan wakaf produktif yang menopang 23 kampus cabang. Sebanyak 14 kampus di antaranya lahir langsung dari wakaf masyarakat.

Sementara itu, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap penguatan tata kelola aset wakaf. Ia menegaskan bahwa percepatan sertifikasi tanah wakaf menjadi langkah strategis untuk melindungi aset umat dari berbagai potensi sengketa di masa mendatang.

Menurut Nusron, pemerintah juga terus mendorong penyelesaian persoalan administrasi melalui mekanisme Isbat Wakaf bagi tanah wakaf yang belum memiliki dokumen lengkap.

Lebih jauh, Nusron mengungkapkan rencana terobosan regulasi yang memungkinkan pemberian Hak Guna Bangunan (HGB) di atas tanah wakaf guna mengoptimalkan pemanfaatannya secara ekonomi.

“Kami ingin membuat terobosan regulasi demi kepentingan pemberdayaan umat. Pihak ketiga atau investor nantinya dapat membangun infrastruktur komersial dan menyewa lahan di atas tanah wakaf kepada nadzir. Sehingga, tanah yang tadinya pasif bisa menghasilkan nilai keekonomian tinggi,” kata Nusron.

Ia berharap regulasi tersebut dapat membuka peluang besar bagi pengembangan wakaf produktif di Indonesia sehingga menjadi salah satu instrumen utama dalam membangun kemandirian ekonomi umat.

ICOP ke-4 juga menghadirkan sejumlah pakar internasional, di antaranya Nuruddin Anis dari University of Sharjah, Salahudin Suyurno dari Universiti Teknologi MARA, serta Aliyu Dahiru Muhammad.

Forum ini turut dihadiri para pimpinan pesantren dan perguruan tinggi Islam terkemuka, seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Pondok Pesantren Buntet, Universitas Darussalam Gontor, dan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Selain seminar dan diskusi panel, ICOP 2026 membuka delapan subtema penelitian melalui sesi call for paper, mulai dari tata kelola wakaf, digitalisasi keuangan wakaf, pengukuran dampak sosial-ekonomi, investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), hingga harmonisasi regulasi wakaf lintas negara.

Melalui konferensi ini, Universitas Darunnajah menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan Islam yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan dengan menjadikan wakaf sebagai salah satu pilar utama penggerak peradaban.

Read Entire Article
Politics | | | |