Perang AS-Israel VS Iran, Kepala Intelijen Turki Ungkap Skenario Mengerikan yang Ancam Dunia

4 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lebih dari 1.340 orang tewas. Pemimpin tertinggi sebuah negara gugur. Dua puluh ribu pelaut terdampar di kapal-kapal yang terjebak. Dan harga bahan bakar melonjak di seluruh penjuru dunia.

Inilah realitas yang terjadi sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, sebuah titik awal yang oleh Kepala Organisasi Intelijen Nasional Turki, Ibrahim Kalin, kini diperingatkan sebagai percikan yang berisiko membakar delapan miliar manusia.

Berbicara di KTT STRATCOM 2026 di Istanbul, Kalin melukiskan peta jalan yang mencemaskan: apa yang dimulai sebagai perang Israel/AS-Iran sejak 28 Februari, kini telah berlangsung sekitar satu bulan, bergerak dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dari konflik regional menuju krisis global.

Peringatan ini bukan sekadar retorika diplomatik biasa. Kalin, yang selama ini dikenal sebagai salah satu arsitek kebijakan luar negeri Turki yang pragmatis, secara eksplisit menyebut bahwa perang ini berisiko menjadi "perang yang akan menelan korban delapan miliar orang," sebagaimana diberitakan TRT World.

Namun yang lebih mencengangkan adalah bagaimana ia membingkai konflik ini bukan sekadar sebagai benturan senjata, melainkan sebagai pertaruhan eksistensial tatanan kawasan.

"Salah satu hasil yang diperhitungkan dari perang ini bukan hanya penghapusan kemampuan nuklir Iran, tetapi yang lebih berbahaya, langkah-langkah yang meletakkan dasar bagi konflik saudara selama beberapa dekade di antara bangsa-bangsa pendiri kawasan ini, Turki, Kurdi, Arab, dan Persia."

Kalin seolah hendak mengatakan: perang ini bukan sekadar soal rezim atau hulu ledak, melainkan soal fragmentasi peradaban yang akan membekas selama generasi.

Ironi Deeskalasi yang Gagal

Di sinilah letak ironi besar. Di satu sisi, Turki mengaku telah melakukan upaya diplomatik intensif, bahkan secara puitis Kalin menyatakan bahwa negaranya akan "memegang bola api itu di tangan kami dan mendinginkannya di dada kami, tetapi kami tidak akan pernah melemparkannya ke dalam api perselisihan."

Di sisi lain, Israel dinilai secara konsisten menyabotase setiap upaya membuka saluran negosiasi dan komunikasi, sebagaimana yang telah terjadi sebelum perang meletus.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |