Kapal tempur militer Iran mengepung kapal induk tiruan selama latihan perang di Selat Hormuz, selatan Iran, 28 Juli 2020.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah merusak berbagai fasilitas umum di Iran, merenggut ribuan nyawa, hingga menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei wafat.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di negara-negara Timur Tengah dan membatasi perlintasan di Selat Hormuz. Eskalasi ketegangan di sekitar Iran juga menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Blokade itu berpengaruh terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara di dunia.
Menyusul pembatasan tersebut, sekitar 1.900 kapal komersial tertahan di kawasan Selat Hormuz, terutama di Teluk Persia, sejak operasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sejak awal serangan, Teheran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel sehingga lalu lintas maritim di selat itu terhenti.
Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.
Sementara itu, Teheran menyatakan kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan.
Berikut adalah daftar negara-negara yang kapal-kapalnya diizinkan oleh Iran untuk melintasi Selat Hormuz, dikutip dari berbagai sumber.
sumber : Antara

7 hours ago
6















































