Pasar Petani Garuda: Strategi Pemkab Bogor Perkuat Perlindungan Petani dan Ketahanan Pangan

4 days ago 9

Ilustrasi pasar petani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah gempuran produk impor dan ketidakpastian rantai pasok, kebijakan perlindungan petani lokal menjadi fondasi vital bagi kedaulatan pangan sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.

Perlindungan ini tidak hanya sebatas pemberian subsidi pupuk, tetapi juga tentang penyediaan akses pasar yang adil dan ekosistem usaha yang memihak kepada para produsen pangan lokal agar mereka mampu berdaya saing di pasar domestik.

Pemerintah Kabupaten Bogor melalui kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto, menginisiasi Pasar Petani Garuda di Cibinong sebagai proyek percontohan nyata perlindungan petani. Pasar ini merupakan sentra niaga terpadu yang dirancang khusus bagi para petani lokal di Kabupaten Bogor untuk memasarkan hasil bumi mereka secara langsung tanpa melalui perantara yang merugikan. Terletak di Jalan Tegar Beriman, kawasan ini menjadi ruang usaha resmi bagi petani tanaman buah, tanaman hias, hingga sektor perikanan baik ikan konsumsi maupun ikan hias yang menjadi potensi unggulan daerah.

Secara fungsional, Pasar Petani Garuda menawarkan skema yang sangat meringankan, di mana petani hanya dikenakan biaya administrasi sebesar Rp100.000 per tahun untuk mencegah praktik jual beli lapak oleh mafia atau pihak ketiga. Dengan sistem pendataan yang ketat oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun), pasar ini memastikan bahwa setiap dari 150 lapak yang tersedia benar-benar ditempati oleh petani asli. Hal ini memudahkan pemerintah dalam memberikan pembinaan berkala serta menjamin keberlanjutan usaha mereka.

“Walaupun pembangunannya baru mencapai sekitar 50 persen, kami mulai menginisiasi operasionalnya sebagai titik awal menghadirkan ruang usaha yang tertata, terdata, dan berpihak kepada petani,” ujar Rudy Susmanto saat meninjau lokasi, Jumat (30/1/2026). Saat ini, sudah terdapat 71 lapak yang mulai beroperasi dan menjadi pusat perhatian bagi warga yang mencari produk pertanian segar berkualitas.

Lebih jauh, pasar ini merupakan bagian dari strategi besar ketahanan pangan daerah. Rudy menegaskan bahwa ke depan, Pemkab Bogor akan mendorong agar kebutuhan bibit dan tanaman untuk program penghijauan, pemeliharaan taman, serta ruang terbuka hijau di wilayah Bogor dibeli langsung dari para petani di pasar ini. "Kami ingin pemerintah belanja langsung dari petani Kabupaten Bogor sendiri," tambahnya.

Setelah pembangunan fisik tuntas 100 persen, Pasar Petani Garuda direncanakan tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi pertanian dan ruang terbuka hijau yang ramah lingkungan bagi masyarakat luas. Konsep pemberdayaan ini pun direncanakan akan diduplikasi di wilayah lain di Kabupaten Bogor agar manfaatnya terasa merata bagi seluruh petani di Bumi Tegar Beriman.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |