Menjemput Swasembada Gula Konsumsi di 2026

7 hours ago 11

Oleh : Kuntoro Boga Andri, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian

REPUBLIKA.CO.ID, Optimisme Indonesia untuk mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun ini semakin menemukan pijakan kuat. Hal ini didukung dengan tren data produksi, intervensi program yang terarah, serta transformasi sektor pergulaan yang mulai menunjukkan hasil nyata.

Dalam konteks ini, program hilirisasi pertanian khusus melalui bongkar ratoon dan perluasan areal tebu periode 2025–2027 akan menjadi katalis penting yang mempercepat terwujudnya kemandirian gula nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi gula nasional dalam beberapa tahun terakhir mengalami tren peningkatan, meskipun belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan domestik. Produksi gula kristal putih (GKP) nasional pada 2023 berada di kisaran 2,3–2,4 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 2,8 juta ton. Selisih inilah yang selama ini ditutup melalui impor.

Namun, mulai tahun lalu terdapat perkembangan signifikan. Luas areal tebu nasional yang sempat stagnan di kisaran 400–450 ribu hektare mulai menunjukkan peningkatan, seiring intervensi kebijakan pemerintah. Produktivitas tebu juga perlahan meningkat dari rata-rata sekitar 65 ton per hektare menuju 70–75 ton per hektare di beberapa sentra produksi. Bahkan, di kawasan yang menerapkan praktik budidaya modern, produktivitas dapat mencapai lebih dari 90 ton per hektare.

Lebih penting lagi, rendemen tebu yang selama ini menjadi titik lemah, mulai mengalami perbaikan. Jika sebelumnya rata-rata rendemen nasional berkisar 6–7 persen, kini beberapa pabrik gula yang telah direvitalisasi mampu mencapai rendemen di atas 8 persen. Kenaikan satu persen rendemen saja dapat meningkatkan produksi gula nasional secara signifikan tanpa harus menambah luas lahan secara drastis.

Game Changer Bernama  Bongkar Ratoon

Dalam kerangka inilah, program bongkar ratoon menjadi sangat strategis. Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian secara aktif mendorong peremajaan tanaman tebu tua yang sudah tidak produktif. Target bongkar ratoon dalam beberapa tahun terakhir mencapai puluhan ribu hektare per tahun, dengan fokus pada wilayah sentra seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung.

Program ini didukung dengan penyediaan benih unggul bersertifikat, bantuan sarana produksi, serta pendampingan teknis kepada petani. Varietas baru yang ditanam memiliki potensi produktivitas lebih tinggi, tahan terhadap cekaman lingkungan, dan memiliki rendemen lebih baik. Dalam jangka pendek, program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas minimal 10–20 persen dibandingkan tanaman ratoon lama.

Selain itu, Ditjen Perkebunan juga menjalankan program Pengembangan Kawasan Tebu Terintegrasi yang menghubungkan petani dengan pabrik gula dalam satu ekosistem produksi. Pendekatan kawasan ini memungkinkan pengelolaan budidaya yang lebih terstandar, efisiensi distribusi bahan baku, serta peningkatan kualitas tebu yang digiling.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah perluasan areal tebu secara masif pada periode 2025–2027. Pemerintah menargetkan penambahan luas lahan tebu baru hingga ratusan ribu hektare, terutama di luar Pulau Jawa seperti Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Papua. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerataan pembangunan serta optimalisasi lahan potensial yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Jika program perluasan ini berjalan sesuai rencana, maka luas areal tebu nasional berpotensi meningkat menjadi lebih dari 700 ribu hektare dalam beberapa tahun ke depan. Dengan asumsi produktivitas rata-rata 80 ton per hektare dan rendemen 9 persen, produksi gula nasional berpotensi menembus angka 4 juta ton. Angka ini tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada impor secara signifikan.

Hilirisasi dan Revitalisasi

Hilirisasi menjadi elemen kunci dalam memastikan keberlanjutan peningkatan produksi tersebut. Tidak cukup hanya meningkatkan produksi tebu, tetapi juga harus diimbangi dengan kapasitas industri pengolahan yang memadai. Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 60 pabrik gula, namun sebagian besar masih menggunakan teknologi lama dengan efisiensi rendah.

Melalui program revitalisasi, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas giling dan efisiensi pabrik gula. Investasi pada teknologi modern, termasuk sistem otomatisasi dan efisiensi energi, menjadi prioritas. Bahkan, beberapa pabrik gula baru yang dibangun di luar Jawa telah dirancang dengan konsep terintegrasi, tidak hanya memproduksi gula, tetapi juga bioetanol dan listrik dari limbah tebu.

Dalam perspektif ekonomi, hilirisasi ini memberikan nilai tambah yang signifikan. Produk turunan seperti bioetanol memiliki potensi pasar yang besar, terutama dalam mendukung program energi terbarukan. Dengan demikian, industri gula tidak hanya menjadi sektor pangan, tetapi juga bagian dari strategi energi nasional.

Optimisme swasembada gula juga didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan perlindungan petani. Penetapan harga acuan gula, pengendalian impor, serta dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi instrumen penting dalam menciptakan ekosistem usaha yang sehat.

Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada konsistensi implementasi di lapangan. Tantangan seperti perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur, serta koordinasi antar lembaga harus diatasi secara sistematis. Di sinilah pentingnya penguatan sistem data dan digitalisasi pertanian.

Pemanfaatan teknologi digital dalam pemantauan lahan, prediksi produksi, hingga manajemen rantai pasok dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi pengambilan keputusan. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, sementara petani dapat meningkatkan produktivitas melalui praktik budidaya berbasis informasi.

Momentum ini juga harus dimanfaatkan untuk memperkuat peran generasi muda dalam sektor pertanian. Modernisasi dan digitalisasi membuka peluang bagi anak muda untuk terlibat dalam agribisnis tebu dengan pendekatan yang lebih inovatif. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan sektor pergulaan dalam jangka panjang.

Jika kita melihat secara komprehensif, kombinasi antara peningkatan produktivitas melalui bongkar ratoon, ekspansi areal tebu, revitalisasi industri, serta hilirisasi produk menciptakan sebuah ekosistem yang mendukung tercapainya swasembada gula konsumsi.

Dengan tren produksi yang meningkat, dukungan kebijakan yang kuat, serta komitmen semua pihak, target swasembada gula konsumsi bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia berpotensi tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memperkuat posisi sebagai produsen gula di kawasan.

Pada akhirnya, swasembada gula bukan sekadar persoalan angka produksi, tetapi juga soal kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Keberhasilan program ini akan menjadi bukti bahwa dengan strategi yang tepat dan kerja bersama, Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan strategisnya.

Kini, yang dibutuhkan adalah menjaga momentum, memastikan konsistensi kebijakan, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor. Jika itu dapat dilakukan, maka swasembada gula konsumsi bukan hanya target jangka pendek, tetapi fondasi bagi kemandirian pangan Indonesia di masa depan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |