
Oleh: Faozan Amar*)
Di tengah tekanan ekonomi dan melemahnya daya beli, satu fenomena tetap menarik diamati setiap menjelang Idul Adha: masyarakat tetap berusaha berkurban. Bahkan, banyak berita masyarakat yang masuk kategori miskin, menyisihkan uangnya untuk berkurban. Padahal, harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup meningkat, dan ketidakpastian ekonomi masih membayangi kelas menengah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kurban bukan sekadar ritual keagamaan tahunan untuk meneladani Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail. Ia telah berkembang menjadi simpul penting antara spiritualitas, solidaritas sosial, dan perputaran ekonomi nasional.
Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI mencatat realisasi dan potensi ekonomi kurban Indonesia tahun 2025 mencapai sekitar Rp34,3 triliun. Nilai tersebut berasal dari jutaan pekurban dan perputaran transaksi hewan ternak di berbagai daerah. (puskasbaznas.com)
Sementara itu, Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memperkirakan nilai ekonomi kurban nasional 2025 berada di kisaran Rp27,1 triliun. IDEAS menilai tekanan ekonomi kelas menengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jumlah pekurban tahun ini.
Sejumlah lembaga filantropi dan pelaku industri peternakan memproyeksikan potensi ekonomi kurban tahun 2026 tetap besar, meski pertumbuhannya melambat akibat tekanan konsumsi rumah tangga dan penurunan daya beli. Pada titik ini, kurban menjadi cermin yang cukup jujur tentang kondisi sosial-ekonomi.
Bank Dunia (2019) mengingatkan bahwa kelas menengah Indonesia sangat rentan turun kelas ketika menghadapi guncangan ekonomi. Kelompok yang terlihat mapan ternyata banyak yang belum memiliki ketahanan finansial kuat. Kondisi pasca pandemi, kenaikan harga pangan, cicilan rumah tangga, dan ketidakpastian pekerjaan membuat situasi tersebut semakin terasa.
Di tengah tekanan itu, tradisi kurban tetap bertahan. Banyak rumah tangga tetap menyisihkan dana kurban meski harus mengurangi konsumsi lain. Dalam teori konsumsi, John Maynard Keynes (1936) menjelaskan perilaku konsumsi dipengaruhi pendapatan disposabel dan ekspektasi ekonomi masa depan. Tetapi dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia, perilaku ekonomi ternyata tidak sepenuhnya tunduk pada logika rasional ekonomi modern.
Ada faktor moral, identitas sosial, dan religiusitas yang ikut bekerja. Kurban akhirnya menjadi bentuk konsumsi sosial yang unik. Ia bukan sekadar pengeluaran, melainkan ekspresi solidaritas dan legitimasi moral di tengah masyarakat religius.
Daya tahan kelas menengah
Monzer Kahf (1995) menjelaskan bahwa distribusi kekayaan dalam Islam bertujuan menciptakan keadilan sosial, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Kurban dalam konteks tersebut, bekerja sebagai mekanisme redistribusi ekonomi: uang dari kelas menengah mengalir kepada peternak desa dan masyarakat miskin. Sehingga kurban berdampak ekonomi sangat luas.
Momentum Idul Adha menciptakan “musim ekonomi” bagi peternak rakyat. Pedagang pakan, sopir pengangkut ternak, jagal, pedagang bumbu, hingga UMKM pengolah daging ikut menikmati perputaran ekonomi tahunan tersebut.
Ini penting karena peternak kecil sering berada di posisi paling rentan dalam rantai ekonomi kurban. Mereka menikmati lonjakan pendapatan sesaat menjelang Idul Adha, tetapi kembali menghadapi persoalan modal, pakan, dan distribusi setelah musim kurban selesai.
Padahal, jika dikelola secara strategik, kurban dapat menjadi instrumen pembangunan ekonomi desa yang lebih besar. Fred R. David (2011) menjelaskan strategi yang efektif harus mampu menghubungkan sumber daya dengan dampak jangka panjang. Pengelolaan kurban tidak boleh berhenti pada penyembelihan dan pembagian daging. Tetapi harus ada desain pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.
Dari ritual menuju kesejahteraan
Agar kurban tidak hanya sekedar ritual, ada beberapa strategi yang harus dilakukan. Pertama, penguatan ekosistem peternak lokal perlu menjadi prioritas. Lembaga pengelola kurban dapat membangun kemitraan jangka panjang melalui pembinaan usaha ternak, akses pembiayaan syariah, pelatihan kesehatan hewan, hingga kepastian pembelian.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

14 hours ago
13

















































