Anggota Satgas Koops TNI Habema Kogabwilhan III memberi makanan ringan kepada warga saat evakuasi korban serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Ahad (23/3/2025). Satgas Koops TNI Habema Kogabwilhan III berhasil mengevakuasi tenaga pengajar dan tenaga kesehatan pascaserangan KKB di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Jumat 21 Maret 2025 yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia, enam orang luka-luka dan kerusakan fasilitas pendidikan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah tantangan keamanan yang kompleks, kedisiplinan prajurit bukan sekadar soal baris berbaris, melainkan tameng utama menjaga kedaulatan negara. Komando Distrik Militer (Kodim) 1702/Jayawijaya secara proaktif memperkuat fondasi ini dengan menggelar "Jam Komandan" bagi seluruh personel, termasuk persatuan istri (Persit) dan PNS. Forum ini menjadi instrumen kritis untuk mengevaluasi kinerja harian dan memastikan setiap langkah operasional sejalan dengan tugas pokok pengamanan wilayah.
Kedisiplinan sebagai DNA Prajurit
Dalam tubuh TNI, kedisiplinan adalah DNA yang membentuk pola pikir dan tindakan. Ia tidak hanya tercermin dari kepatuhan pada hierarki dan aturan seragam, tetapi terutama pada konsistensi menjalankan tugas berdasarkan pedoman baku, bahkan dalam situasi terberat di lapangan. Kedisiplinan ini menjadi penentu kemampuan prajurit dalam mengambil keputusan cepat dan tepat, khususnya saat berinteraksi langsung dengan masyarakat di wilayah seperti Papua Pegunungan.
Sapta Marga: Kompas Moral di Medan Tugas
Letkol Inf Ilham Datu Ramang, Dandim 1702/Jayawijaya, menekankan Sapta Marga sebagai kompas moral yang tak boleh tersasar. Pedoman yang terdiri dari tujuh janji luhur ini, seperti setia kepada Pancasila dan rela berkorban untuk bangsa, menjadi roh yang mengarahkan prajurit agar tetap berada di jalur yang benar, menjauhkan diri dari pelanggaran seperti konsumsi alkohol dan narkoba, serta memastikan integritas di setiap penugasan.
Tiga Metode Binter: Jembatan TNI-Rakyat
Kunci strategi Kodim 1702/Jayawijaya adalah penerapan tiga metode Pembinaan Teritorial (Binter). Pertama, pendekatan manusiawi dengan menjalin kedekatan dan komunikasi intensif bersama semua komponen masyarakat. Kedua, pemberdayaan wilayah melalui sinergi dengan aparat terkait untuk meningkatkan ketahanan daerah. Ketiga, pembinaan kesadaran berbangsa yang menempatkan prajurit sebagai bagian dari masyarakat, sehingga kehadiran TNI benar-benar dirasakan manfaatnya.
Metode Binter ini diimplementasikan dengan prajurit turun langsung ke masyarakat, membangun kepercayaan, dan mendengarkan aspirasi. Harapannya, selain tugas pengamanan berjalan optimal, TNI mampu menjadi institusi yang dicintai karena kontribusi nyatanya bagi kesejahteraan rakyat. Upaya Kodim 1702/Jayawijaya ini menunjukkan bahwa di medan yang penuh dinamika, ketangguhan operasional harus dibarengi dengan kedekatan emosional yang tulus dengan warga.
sumber : Antara

4 days ago
8















































