JF-17 China-Pakistan Masuk Kaukasus, Siapa Yang Paling Terancam?

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kemunculan JF-17C Thunder Block III dalam latihan Angkatan Udara Azerbaijan bukan sekadar pertunjukan pesawat tempur baru. Kehadirannya menandai perubahan penting dalam keseimbangan kekuatan udara di Kaukasus Selatan, wilayah yang selama puluhan tahun menjadi arena persaingan Azerbaijan dan Armenia sekaligus ruang perebutan pengaruh Rusia, Iran, Turki, serta negara-negara Barat.

Kementerian Pertahanan Azerbaijan dalam keterangan resminya pada Senin, 6 Juli 2026, mengumumkan pelaksanaan penerbangan latihan menggunakan JF-17C Block III bersama pesawat serang Su-25ML, Su-25, dan pesawat latih L-39. Para pilot menjalankan penerbangan individu dan kelompok, simulasi misi tempur, manuver taktis, serta latihan mendeteksi dan menghancurkan sasaran. Keterangan itu menjadi konfirmasi paling jelas bahwa JF-17 tidak lagi sekadar dipamerkan, tetapi telah memasuki tahap penggunaan operasional.

Kontrak penjualan JF-17 kepada Azerbaijan pertama kali diumumkan secara terbuka oleh militer Pakistan pada September 2024. Sebagaimana dilaporkan Reuters pada Kamis, 26 September 2024, militer Pakistan menyatakan pesawat tersebut “mampu menjalankan beragam misi tempur dan menyediakan pilihan penggunaan kekuatan udara modern”. Namun, pada saat itu Pakistan tidak mengungkap jumlah pesawat ataupun nilai kontraknya.

Sejumlah laporan pemerintah dan industri pertahanan Pakistan pada 2025 kemudian menyebut paket tersebut diperbesar menjadi 40 pesawat dengan nilai sekitar 4,6 miliar dolar AS. Angka itu akan menjadikannya kontrak ekspor pertahanan terbesar Pakistan. Terlepas dari perdebatan mengenai jumlah dan nilainya, masuknya JF-17 menunjukkan satu perubahan besar: Azerbaijan mulai meninggalkan ketergantungan pada ekosistem pesawat tempur Rusia. Selama bertahun-tahun, kekuatan udara Baku bertumpu pada MiG-29 dan Su-25. Dengan JF-17, Azerbaijan memperoleh akses ke radar, rudal, tautan data, dan sistem avionik yang berasal dari jaringan industri pertahanan China dan Pakistan serta berpotensi diintegrasikan dengan perangkat buatan Turki.

Setara dengan Pesawat Apa?

JF-17 Block III kerap diperkenalkan sebagai pesawat tempur generasi 4,5. Sebutan itu merujuk pada penggunaan sejumlah teknologi yang juga terdapat pada pesawat generasi baru, seperti radar Active Electronically Scanned Array atau AESA, kokpit digital, sistem kendali terbang digital, helmet-mounted display, peperangan elektronik, serta kemampuan menembakkan rudal di luar jangkauan visual.

Namun, klasifikasi “generasi 4,5” bukan standar teknis universal. Dua pesawat yang sama-sama disebut generasi 4,5 dapat memiliki kemampuan radar, daya angkut, jangkauan, mesin, peperangan elektronik, dan integrasi jaringan yang sangat berbeda.

Menurut data resmi Pakistan Aeronautical Complex, JF-17 memiliki berat maksimum lepas landas 13.500 kilogram, kecepatan maksimum Mach 1,6, delapan titik gantung senjata, serta kapasitas muatan eksternal sekitar 3.400 kilogram. Varian Block III dilengkapi radar AESA, sistem fly-by-wire digital, perangkat jamming, tautan data taktis, kemampuan pelacakan banyak sasaran, rudal jarak dekat berpemandu inframerah, dan rudal udara-ke-udara jarak jauh.

Read Entire Article
Politics | | | |