Investasi Bukan Tren, Masyarakat Diajak Bangun Perencanaan Matang  

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak masyarakat Indonesia kini tertarik berinvestasi. Namun, tidak sedikit yang mulai tanpa tujuan jelas dan pemahaman risiko. Akibatnya, mereka mudah tergoda janji cepat kaya yang justru berbahaya.

Hal itu menjadi sorotan utama dalam talk show “Cara Jadi Investor Realistis” yang digelar Bank Jago bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Stockbit beberapa waktu lalu. Theo Derick, pengusaha dan content creator, menyoroti masalah yang sering terjadi di masyarakat. Banyak orang mulai investasi hanya karena ikut tren atau saran teman.

“Banyak orang tergiur karena ikut tren atau saran teman. Padahal mereka tidak punya tujuan investasi yang jelas,” kata Theo dalam keterangan dikutip Ahad (15/2/2026).

Menurutnya, investasi bukan cara cepat kaya, melainkan soal konsistensi dan perencanaan. Tanpa tujuan yang jelas, orang mudah tergoda imbal hasil tinggi yang tidak masuk akal.

“Investasi bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten,” tegasnya. 

Head of PR & Communication Bibit & Stockbit William menambahkan, media sosial sering menampilkan cerita cuan instan. Hal ini membentuk persepsi salah di masyarakat. 

“Tanpa disadari, ini membentuk persepsi bahwa investasi adalah sesuatu yang selalu cepat dan mudah. Padahal ada proses dan risiko yang harus diperhatikan,” ujar William.

Teja Amanda Putra dari Divisi Pengembangan Pasar BEI mengingatkan masyarakat untuk selalu ingat dua hal: Legal dan Logis. Pastikan produk investasi terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

“Mengabaikan hal ini sama saja membuka pintu bagi penipuan berkedok cuan,” tegas Teja.

Bank Jago pun sudah menghadirkan fitur Kantong untuk membantu masyarakat mengelola keuangan lebih baik. Pengguna bisa membuat hingga 60 kantong untuk memisahkan uang sesuai tujuan, termasuk investasi.

Theo yang juga pengguna aplikasi Jago mengaku rutin memakai fitur ini. Ia memisahkan dana liburan, tabungan, dan investasi sejak awal bulan.

“Promo boleh, FOMO jangan. Selama ada kantongnya, kita tetap aman,” katanya. 

Digital Product Lead Bank Jago Yusuf Aria Putera menyebut kesadaran masyarakat berinvestasi terus meningkat. Lebih dari tiga juta pengguna Jago telah terhubung dengan Bibit dan Stockbit, naik 38 persen dalam setahun. 

“Hampir 95 persen investornya berusia 17–44 tahun. Generasi Z mendominasi 65 persen,” ungkap Yusuf.

Ia menyarankan pemula menerapkan 3C: Curious (ingin terus belajar), Critical (kritis menyaring informasi), dan Conscious (sadar mengambil keputusan sesuai kondisi pribadi). Ia juga berpesan untuk nemulai membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi sejak dini.

“Ketika saving sudah besar, baru bisa diversifikasi. Investasi itu soal habit,” jelasnya. 

Yusuf menegaskan, kekayaan sejati bukan dari keputusan besar sekali jadi, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

“Jadi kekayaan bukan hasil satu keputusan besar, tapi hasil dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari,” tegas Yusuf.

Read Entire Article
Politics | | | |