Industri Hijau: Strategi Hidup di Tengah Badai Krisis Global

4 days ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang makin mengganas, transformasi industri hijau bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup bagi industri nasional. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini memperingatkan dengan keras: industri yang tidak berani berubah sekarang bukan hanya akan kalah bersaing, tetapi berisiko tinggi tergilas sepenuhnya oleh kombinasi ancaman krisis global.

Indonesia saat ini menghadapi tekanan ekonomi global yang kompleks, berupa pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, dan ketegangan geopolitik, seperti persaingan AS-China dan konflik di Ukraina, yang mengacaukan rantai pasok dunia. Kombinasi mematikan ini tidak hanya menekan industri besar, tetapi dampaknya merembes langsung ke tingkat rumah tangga dan petani melalui kenaikan biaya hidup dan produksi yang mencekik.

Transformasi Hijau yang Harus Menyeluruh

Dalam kunjungan spesifik ke PT Japfa Comfeed Indonesia di Lampung, Novita mengapresiasi langkah awal pemanfaatan energi surya. Namun, ia menegaskan bahwa industri hijau tidak boleh hanya jadi pencitraan. “Green industry bukan hanya soal panel surya. Ia harus menyentuh manajemen limbah, perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, dan dampak nyata bagi lingkungan,” tegasnya. Ia mendorong Japfa menjadi pilot project hijau yang menerapkan prinsip keberlanjutan dari hulu ke hilir.

Lebih dari sekadar efisiensi energi, Novita menekankan bahwa kesuksesan industri hijau juga diukur dari kemampuannya menciptakan keadilan ekonomi. Industri besar didorong untuk tidak bergerak eksklusif, melainkan membuka ruang kolaborasi nyata dengan UMKM dan usaha mikro. Hal ini sejalan dengan semangat kemandirian pangan, agar manfaat transformasi hijau bisa dirasakan hingga ke lapisan ekonomi terbawah. Tanpa aspek keadilan ini, konsep hijau dianggap hanya sebagai jargon belaka.

Komisi VII DPR RI terus mengawal implementasi transformasi ini, menekankan bahwa hanya dengan pendekatan menyeluruh, yang menggabungkan ketangguhan lingkungan, efisiensi ekonomi, dan keadilan sosial, industri nasional bisa bertahan dan unggul di tengah krisis.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |