Indonesia, Jepang memperluas kerja sama pendidikan vokasi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – The Sakuranesia Foundation telah menjembatani kerja sama baru dalam pendidikan vokasi antara Indonesia dan Jepang. Kerja sama ini bertujuan memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan yang berfokus pada industri dan pertukaran pelajar, menurut pernyataan yang dikeluarkan yayasan tersebut pada Sabtu.
Inisiatif ini diperkuat oleh kunjungan Prof. Agus Maryono, Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), ke Jepang. Tovic, pendiri Sakuranesia, menyatakan bahwa yayasan ini akan terus mempromosikan pengembangan sumber daya manusia yang menciptakan nilai bagi masyarakat melalui kerja sama Indonesia-Jepang.
Berperan sebagai penghubung antara institusi di kedua negara, Sakuranesia menyelenggarakan forum di Jepang untuk dialog dan penandatanganan perjanjian kerja sama pendidikan. Selama kunjungan tersebut, Maryono meninjau praktik pendidikan STEAM anak usia dini di Grup Azalee di Edogawa dan bertemu dengan Kazuhiko Hiruma, ketua Sanko Gakuen, bersama dengan pemangku kepentingan lainnya.
Pertemuan yang dihadiri oleh Tovic ini menghasilkan kesepakatan untuk meluncurkan proyek percontohan dalam pendidikan vokasi. Selain itu, upacara penandatanganan kemitraan terpisah diadakan di Kampus Fukuoka Universitas Ekonomi Jepang, bagian dari Grup Tsuzuki Gakuen, menandai langkah awal dalam memperluas kerja sama bilateral dalam pengembangan sumber daya manusia.
Menurut Tovic, pertukaran dengan kelompok pendidikan swasta terkemuka di Jepang diharapkan dapat membangun dasar untuk kolaborasi jangka panjang yang menguntungkan kedua negara. Sekolah Vokasi UGM dikenal dengan kurikulumnya yang berbasis praktik dan berorientasi internasional, di mana pada tahun keempat, mahasiswa harus mengikuti magang atau program studi di luar negeri. Sekitar 30 persen dari mahasiswanya mendapatkan pengalaman internasional setiap tahunnya melalui skema tersebut.
Dalam kemitraan baru ini, diharapkan mahasiswa Indonesia dapat mengakses pengalaman industri yang lebih luas di Jepang, memperkuat kompetensi lintas budaya, dan mempertajam keterampilan praktis mereka untuk mendukung karier masa depan mereka.
"Kemitraan ini melampaui pertukaran akademik. Ini bertujuan untuk membangun fondasi bagi generasi muda di kedua negara untuk saling memahami, belajar bersama, dan secara berkelanjutan berkontribusi pada masyarakat," kata Tovic.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

2 hours ago
4















































