REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Deru kendaraan listrik yang hilir mudik di arena Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Kemayoran, Jakarta, membawa pesan yang sama: masa depan mobilitas Indonesia sedang beralih.
Di tengah euforia itu, booth PT PLN (Persero) menjadi salah satu titik paling ramai dikunjungi. Bukan hanya karena promosi layanan, melainkan karena di sanalah publik diperkenalkan pada peluang besar: kemitraan pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Vice President Komersialisasi Produk Niaga PLN Ronny Afrianto menegaskan, meningkatnya populasi kendaraan listrik harus diimbangi ketersediaan infrastruktur. “Jumlah SPKLU saat ini sekitar 5.000 unit di Indonesia. Ini peluang besar bagi masyarakat dan badan usaha untuk ikut terlibat,” ujarnya di sela kegiatan IIMS 2026.
Lonjakan EV dan Kebutuhan Infrastruktur
Ronny mengakui, pertumbuhan kendaraan listrik dari tahun ke tahun meningkat tajam. PLN tidak mungkin bergerak sendiri untuk mengejar kebutuhan tersebut. Karena itu, perusahaan membuka pintu selebar-lebarnya bagi kemitraan.
“PLN mengajak masyarakat dan badan usaha untuk bersama-sama membangun SPKLU, menambah jumlahnya, serta mengembangkan ekosistem kendaraan listrik,” kata Ronny.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat beberapa skema kerja sama; Skema pertama, PLN menyediakan mesin pengisian, sementara mitra menyediakan lahan yang strategis, mudah diakses, dan memiliki ruang tunggu yang layak bagi pengguna.
Skema kedua, badan usaha dapat berinvestasi pada mesin SPKLU sekaligus menyediakan lahannya sendiri. Skema ketiga berbentuk kerja sama tripartit: pemilik lahan, pemilik mesin, dan PLN sebagai pemegang izin usaha penjualan listrik.
Regulasi dan Tanggung Jawab Mitra
Dari sisi regulasi, setiap pihak yang menjual energi listrik kepada pengguna akhir harus memiliki izin usaha penyedia tenaga listrik atau sertifikat standar. Mitra dapat memilih menjual melalui izin PLN atau mengurus izin sendiri.
“Kalau jualan lewat izin PLN, badan usaha tidak perlu mengurus izin lagi. Tetapi jika ingin mandiri, tentu harus mengurus perizinannya,” jelas Ronny.
Meski demikian, pemilik mesin tetap bertanggung jawab terhadap operasi dan pemeliharaan. “Kalau ada troubleshooting, pemilik mesin yang memperbaiki. Ini bagian dari komitmen kualitas layanan,” tambahnya.
Target Nasional dan Peran Mitra
Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menetapkan peta jalan pembangunan SPKLU hingga beberapa tahun ke depan. PLN menjadi salah satu aktor utama, namun tetap membutuhkan dukungan sektor swasta.
“Peraturan mendorong pembangunan tidak hanya di daerah padat, tetapi juga non-padat. Ini untuk memperkuat ekosistem secara merata,” kata Ronny.
Saat ini, dari sekitar 4.800 SPKLU yang beroperasi, lebih dari seribu merupakan milik mitra. Jumlah mitra tercatat sekitar 40 badan usaha dan terus bertambah. “Peminat makin hari makin banyak. Selalu ada pemain baru,” ujarnya.
Ia menambahkan, rasio ideal yang ditetapkan pemerintah adalah 1 SPKLU melayani 17 kendaraan listrik. Artinya, jika terdapat 17 ribu kendaraan listrik, dibutuhkan setidaknya seribu SPKLU. “PLN tentu tidak bisa sendiri,” tegasnya.
IIMS 2026 sebagai Titik Temu
Di booth PLN, informasi kemitraan dipaparkan secara terbuka. Badan usaha yang berminat dapat datang ke unit terdekat untuk membahas skema, kebutuhan jaringan listrik, fondasi, hingga pembagian pendapatan.
“Di awal kami jelaskan semua, disepakati, lalu dituangkan dalam perjanjian. Sehingga saat pembangunan, masing-masing pihak sudah tahu hak dan kewajibannya,” jelas Ronny.
Kehadiran PLN di IIMS 2026 menjadi etalase komitmen itu. Sejalan dengan branding PLN Mobile – Your EV Partner, perusahaan menegaskan bahwa platform digital tersebut adalah pintu utama seluruh layanan, termasuk ekosistem SPKLU.
Suara dari Pengunjung
Optimisme itu juga dirasakan pengunjung. Ivan Riyadi, salah satu pengunjung booth PLN, mengaku datang untuk mengurus penambahan daya dari 2.200 menjadi 7.700 VA.
“Yang menarik, PLN sudah menyediakan pemasangan charging untuk mobil. Menurut saya promonya bagus banget,” ujarnya.
Ia menilai suasana booth ramah keluarga. “Nyaman, friendly untuk anak-anak dan orang tua. Jadi betah untuk stay di sini,” katanya.
Bagi Ivan, masa depan memang mengarah ke listrik. “Karena ke depannya kayaknya orang akan lari ke listrik untuk mobil. Minyak makin ditinggalkan. Sekarang sih udah sangat bagus ya, penanganannya lebih cepat gitu. Setiap ada bencana, setiap ada masalah, responnya sangat cepat. Menurut saya udah bagus sih. PLN di IMS, terbaik,” tuturnya.
Menyemai Masa Depan
Dari Kemayoran, benang merahnya jelas: ekosistem EV tidak bisa dibangun sendiri. Diperlukan kolaborasi pemerintah, BUMN, dan swasta. Kemitraan SPKLU menjadi pintu masuk paling konkret.
“Harapan kami makin banyak mitra yang berminat sehingga pelayanan makin baik dan infrastruktur makin berimbang dengan jumlah kendaraan listrik,” tutup Ronny
sumber : Antara

3 hours ago
7













































