Indeks Dolar Tembus 100, Rupiah Ditutup Loyo di Level Rp 16.958

9 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks dolar AS (DXY) terpantau menembus level 100 pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 65 poin atau 0,38 persen menuju posisi Rp 16.958 per dolar AS. Adapun DXY menguat 0,39 poin atau 0,39 persen menembus 100,131.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, ada berbagai faktor yang menyebabkan rupiah melemah, baik sentimen eksternal maupun internal.

Dari eksternal, harga minyak melonjak setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur air sempit itu merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

“Para pelaku pasar dan analis khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi. Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir berada di sekitar 100 dolar AS per barel,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).

Ibrahim mengatakan, di tengah kondisi tersebut, bank sentral seperti The Federal Reserve mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat.

“Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar,” ujarnya.

Selain konflik Iran, Ibrahim menyebut investor juga memantau data inflasi AS pada pekan ini. Angka indeks harga konsumen pada Rabu menunjukkan inflasi sebagian besar tetap stabil pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angka tersebut tidak mencerminkan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak karena kampanye AS–Israel di Iran.

“Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi untuk Januari, yang akan dirilis akhir pekan ini, diharapkan memberikan lebih banyak petunjuk tentang inflasi AS. Yang terpenting, angka tersebut merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam ekspektasi suku bunga jangka panjang,” terangnya.

Read Entire Article
Politics | | | |