Hikayat Perang Sabil, Naskah Sakti yang Menghipnotis Orang Aceh Berani Mati Melawan Penjajah

9 hours ago 24

Umat islam berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman saat libur Idul Adha di Banda Aceh, Indonesia, 12 Juli 2022. Masjid Baiturrahman merupakan salah satu tempat wisata Islam di Aceh yang telah menerapkan syariat Islam dan diharapkan wisatawan muslim berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. tempat dalam konteks wisata halal.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sebaris syair dalam Hikayat Perang Sabil cukup untuk mengubah rasa takut menjadi keberanian mencari mati syahid. Naskah karya Teungku Chik Pante Kulu ini dipercaya mampu mempengaruhi pembaca dan pendengarnya bak dihipnotis, membakar semangat rakyat Aceh untuk melawan kolonial Belanda tanpa gentar hingga pemerintah Hindia Belanda pun melarang keras siapa saja yang membaca, menulis, atau menyimpannya.

Dalam catatan sejarah, Keberhasilan Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman dalam memimpin peperangan melawan Belanda di Aceh, selain dari keahliannya sendiri, juga didukung oleh peranan Hikayat Perang Sabil yang dikarang oleh Teungku Chik Pante Kulu. Nama lengkapnya adalah Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu.

Seorang sastrawan Aceh, Anzib Lamnyong, dalam kata pengantarnya ketika menyalin Hikayat Perang Sabil ke dalam huruf Latin, menulis tentang pengaruh hikayat tersebut sebagai berikut:

"Apabila Belanda mengetahui ada orang yang menyimpan Hikayat Prang Sabi, terus dirampas, dan penyimpannya dihukum, demikian pula terhadap siapa saja yang membacanya (dihukum)."

"Penyalin naskah ini pernah mengetahui ada seorang yang bernama Leem Abah, penduduk Kampung Peurada, kemukiman Kayee Adang, daerah XXVI Mukim (sekarang Kecamatan Ingin Jaya). Pada suatu malam ia mendengar orang membaca Hikayat Perang Sabil. Besoknya, tanpa diketahui siapa pun, pada pagi-pagi buta ia telah berada di Peukan Aceh, di depan Societeit Atjeh Club (Balai Teuku Umar sekarang), tempat ia menjumpai seorang Belanda yang sedang berjalan-jalan."

"Dengan mendadak, Leem Abah menghunus rencongnya yang disembunyikan dalam lipatan kain, lalu menikam orang Belanda itu tepat pada dadanya, hingga jatuh terlentang dan mati seketika di situ juga."

"Sesaat kemudian, Leem Abah ditangkap dan akhirnya diinternir ke Pulau Jawa yang mungkin telah dibunuh di sana, sebab ia tidak pernah pulang lagi ke Aceh."

"Peristiwa ini terjadi pada tahun 1907, pada waktu pertama kali Belanda menetapkan wajib bayar pajak bagi orang Aceh."

Selain dari peristiwa tersebut, banyak peristiwa lain dengan kejadian serupa sebagai akibat dari pengaruh Hikayat Perang Sabil. Para pejuang Aceh secara individu masuk ke kota dan langsung membunuh Belanda yang dijumpainya. Belanda pun terpaksa mengadakan penjagaan yang ketat, dan siapa saja yang dicurigainya langsung ditangkap dan diberikan hukuman, dilansir dari buku Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Mengenal Penulis Hikayat Perang Sabil

Semenjak kecil, Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu sudah mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan. Ia belajar di Dayah Tiro yang pada waktu itu dipimpin oleh Teungku Chik Dayah Cut Muhammad Amin. Sesudah menguasai berbagai bidang ilmu yang diajarkan di dayah tersebut, Teungku Pante Kulu kemudian pergi naik haji untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Setelah tiba di Tanah Suci, ia juga memperdalam ilmu pengetahuannya di Makkah.

Read Entire Article
Politics | | | |