
Oleh: Faozan Amar*)
Langkah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menyerukan efisiensi penggunaan listrik dan air melalui Surat Edaran Nomor 5/EDR/I.0/B/2026 bukan sekadar kebijakan administratif. Di bawah kepemimpinan Prof Haedar Nashir dan Prof Abdul Mu’ti, seruan ini mencerminkan strategi organisasi yang matang dalam merespons tekanan ekonomi global dan sekaligus krisis lingkungan yang semakin nyata.
Dalam perspektif Islam, efisiensi adalah bagian dari nilai fundamental. Allah SWT berfirman, yang artinya, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS al-A’raf: 31). Nabi Muhammad SAW juga menegaskan, “Jangan berlebih-lebihan dalam menggunakan air meskipun di sungai yang mengalir” (HR Ibnu Majah).
Nilai anti-israf ini menjadi fondasi teologis dan etis bagi Muhammadiyah dalam membangun budaya hemat sebagai bagian dari ibadah sosial dan tanggung jawab peradaban.
Strategi ketahanan organisasi
Efisiensi energi yang diterapkan di seluruh amal usaha Muhammadiyah, mulai dari sekolah, panti asuhan, masjid/mushola, BMT/BTM, perkantoran, hingga rumah sakit, merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan organisasi. Dalam teori strategi, Michael Porter (1985) menekankan bahwa efisiensi biaya adalah sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Data Badan Pusat Statistik (2024) menunjukkan bahwa biaya energi masih menjadi komponen signifikan dalam struktur pengeluaran institusi. Dengan menekan konsumsi energi, Muhammadiyah tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga menciptakan ruang fiskal untuk memperkuat layanan pendidikan dan kesehatan.
Lebih lanjut, langkah ini berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional. Upaya efisiensi energi selaras dengan kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2023) dalam mengurangi beban subsidi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Allahyarham Buya Ahmad Syafii Maarif (2009) pernah mengingatkan, kemajuan umat bertumpu pada kedisiplinan, rasionalitas, dan kesederhanaan. Efisiensi energi adalah manifestasi konkret dari etos tersebut, yang harus diamalkan dalam kehidupan.
Strategi di tengah gejolak ekonomi
Namun, efisiensi hanyalah pintu masuk. Dalam menghadapi gejolak ekonomi global, mulai dari inflasi, krisis energi, lonjakkan harga pangan, hingga ketidakpastian geopolitik, organisasi sebesar Muhammadiyah memerlukan strategi yang lebih komprehensif. Hal ini penting dan strategis agar Muhammadiyah tetap eksis melaksanakan dakwar amar maruf nahi munkar.
Pertama, strategi adaptif berbasis efisiensi dan prioritas. Mengikuti pemikiran Peter Drucker (1993), organisasi harus mampu mengalokasikan sumber daya secara selektif. Efisiensi memungkinkan Muhammadiyah memfokuskan anggaran pada program berdampak tinggi, seperti peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.
Kedua, digitalisasi dan transformasi tata kelola. Di era disrupsi, efisiensi harus diperluas melalui digitalisasi sistem administrasi dan manajemen energi. Transformasi ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kelembagaan.
Ketiga, diversifikasi sumber pendanaan. Ketergantungan pada sumber dana konvensional perlu dikurangi melalui penguatan filantropi, wakaf produktif, penguatan iuran anggota, dan unit usaha sosial. Model ini sejalan dengan ekonomi berbasis umat yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah.
Keempat, penguatan ekonomi hijau dan keberlanjutan. Laporan World Bank (2022) menegaskan bahwa efisiensi energi adalah langkah paling efektif dalam menekan emisi tanpa menghambat pertumbuhan. Muhammadiyah, sebagai ormas keagamaan yang beranggotan kalangan terdidik dan kelas menengah, dapat mengambil peran strategis sebagai pelopor gerakan ekonomi hijau berbasis nilai keagamaan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
6

















































