Kasus Pelecehan Seksual di Pesantren, Menag: Tidak Ada Toleransi!

3 hours ago 5

Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan sambutan dalam acara Halalbihalal B57+ Asia Pacific Regional Chapter di Masjid Istiqlal, Rabu (22/4/2026). Acara yang turut dihadiri sejumlah perwakilan duta besar negara anggota B57+, organisasi masyarakat Islam, serta para ekonom tersebut berfokus pada pembahasan ekonomi halal dan peluang Indonesia sebagai motor penggerak industri halal dunia.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar menegaskan sikapnya bahwa tidak ada toleransi untuk tindak kekesaran dan pelecehan, baik fisik, verbal, maupun seksual. Hal ini disampaikan Menag menyusul banyaknya hoaks terkait kasus kekerasan seksual yang dibuat menjadi konten disinformasi di media sosial dan secara sengaja diframing untuk menyerangnya. 

“Sikap saya terkait tindak kakerasan seksual itu jelas dan tegas. Tidak ada toleransi untuk tindak kekerasan seksual. Saya tidak pernah menoleransi sedikit pun tindakan yang mencederai martabat kemanusiaan,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (6/5/2026). “Saya tidak hanya sebagai Menteri Agama, tapi sebagai seorang manusia juga menyatakan semua yang bertentangan dengan moralitas itu harus menjadi musuh bersama," ucapnya.

Nasaruddin menekankan, lembaga pendidikan harus menjadi ruang aman dan bermartabat bagi seluruh peserta didik. "Lembaga pendidikan agama harus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak kita untuk belajar, harus menjadi contoh masyarakat yang ideal," Katanya.

Nasaruddin juga menjelaskan, Kementerian Agama sudah memperkuat regulasi dan mekanisme pembinaan di satuan pendidikan keagamaan, yang akan mengawasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pondok pesantren dan mencegah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.

“Ini akan menjadi concern kami, terutama masalah terkait pondok pesantren ya. Kami sudah membentuk satuan pembinaan pondok pesantren, yang mana pimpinan pondok pesantren berkolaborasi untuk mengawasi dan mencegah penyimpangan apapun yang terjadi di pondok pesantren,” jelas Menag.

Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih teliti dalam memilah informasi, terlebih informasi hoaks yang berpotensi memecah belah. “Mari menjadi pemutus rantai hoaks dengan saring sebelum sharing. Cerdas bermedia sosial adalah cara kita menjaga kedamaian untuk sesama," ucap Nasaruddin.

Read Entire Article
Politics | | | |