REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang menunggu realisasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk menekan lonjakan timbulan sampah di TPA Jatibarang. Setiap tahun, tempat pembuangan akhir tersebut harus menampung sekitar 365 ribu ton sampah dari aktivitas warga kota.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, Pemkot telah mengajukan peminatan PSEL sekaligus menyiapkan berbagai aspek teknis pendukung. Persiapan tersebut mencakup penyediaan lahan, armada truk pengangkut, hingga dukungan pasokan sampah dari daerah sekitar, termasuk Kabupaten Kendal.
“Sekarang tinggal menunggu dari Danantara. Danantara akan proses-proses di sana, penunjukan, dan lain sebagainya. Begitu ada yang menang, baru nanti tahapan kami lagi mendampingi pemenang yang ditunjuk oleh Danantara,” kata Agustina saat diwawancara seusai peresmian Koperasi Kelurahan Merah Putih Sampangan, Jumat (30/1/2026) sore.
Agustina menegaskan, PSEL perlu segera berjalan karena kapasitas TPA Jatibarang kian tertekan. Pemkot memang telah menambah lahan seluas 11 hektare, namun tambahan tersebut dinilai tidak akan mampu menahan laju penumpukan sampah dalam jangka menengah.
“Setiap tahun kita punya sampah, kalau setiap hari 1.000 ton, berarti jumlah satu tahun kan 365 ribu ton. Kalau dua tahun 700 ribu ton lebih. Sementara mining yang ada di TPA itu sudah 3 juta (ton) sekarang. PSEL ini harus jalan, tidak bisa menunggu,” ucap Agustina.
Dia mengingatkan, penundaan proyek hanya akan membuat gunungan sampah semakin tinggi. Agustina menilai, meski ada tambahan lahan, daya tampung TPA tetap berisiko penuh dalam waktu relatif singkat karena timbunan tidak bisa terus diperbesar.
“Semakin menunggu, semakin tumpukan sampahnya semakin besar. Walaupun kita menambah 11 hektare, tidak cukup ini. Kemungkinan besar nanti dalam kurun waktu satu tahun akan penuh juga. Karena kan enggak boleh ditumpuk,” ujarnya.
Saat ini TPA Jatibarang telah menerapkan sistem sanitary landfill yang membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk proses penguburan di satu lahan yang sama. Kondisi tersebut membuat kebutuhan PSEL menjadi semakin mendesak agar beban pengelolaan sampah tidak sepenuhnya bergantung pada metode landfill.
Agustina menyebut, pembangunan infrastruktur PSEL diperkirakan dimulai pada April 2026. Berdasarkan informasi yang diterimanya, proyek tersebut berpotensi mulai beroperasi sekitar 18 bulan setelah proses ground breaking, sekaligus diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah Kota Semarang.

4 days ago
10















































