REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di ambang akhir hayatnya, Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al-Bustami sufi besar yang dikenal sebagai Raja Para Sufi meninggalkan pelajaran mendalam tentang kerendahan hati di hadapan Allah SWT. Dalam munajat terakhirnya, ia menanggalkan seluruh kebanggaan atas ibadah, pengalaman spiritual, dan amal sepanjang hidup, seraya mengakui bahwa semua itu tak berarti apa-apa tanpa rahmat Allah SWT.
Diriwayatkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam buku Tadzkiratul Auliya, menjelang akhir hayatnya, Abu Yazid memasuki tempat shalat dengan mengenakan sebuah ikat pinggang. Jubah dan topinya yang terbuat dari bulu domba ia kenakan secara terbalik.
Abu Yazid kemudian bermunajat kepada Allah, “Ya Allah, aku tidak membanggakan disiplin yang telah kulaksanakan sepanjang hidupku. Aku tidak membanggakan shalat malam yang pernah kulakukan. Aku tidak menyombongkan puasa yang telah kujalani, dan aku tidak menonjolkan berapa kali aku mengkhatamkan Alquran. Aku pun tidak akan menceritakan pengalaman-pengalaman spiritual yang kualami, doa-doa yang kupanjatkan, atau betapa akrab hubungan antara Engkau dan aku."
"Engkau mengetahui bahwa aku tidak menonjolkan semua itu. Apa yang kukatakan ini bukan untuk berbangga atau mengandalkannya. Aku mengucapkannya kepada-Mu justru karena aku malu atas semua perbuatanku. Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri. Semua itu tidak berarti apa-apa, anggaplah tidak pernah terjadi."
"Aku hanyalah seorang Parsi berumur 70 tahun, dengan rambut yang telah memutih dalam kejahilan. Dari padang pasir aku datang sambil berseru, ‘Surga, surga!’ Baru sekarang aku mampu memutus ikat pinggang ini. Baru sekarang aku dapat melangkah ke dalam lingkungan Islam. Baru sekarang lidahku dapat digerakkan untuk mengucapkan syahadat."
"Segala sesuatu yang Engkau perbuat adalah tanpa sebab. Engkau tidak menerima manusia karena ketaatan mereka, dan Engkau tidak menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala yang kulakukan hanyalah debu."
"Maka limpahkanlah ampunan-Mu atas setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepada-Mu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku, karena aku pun telah membasuh debu kelancangan akibat mengaku telah mematuhi-Mu."
Pada akhirnya, doa Abu Yazid di penghujung hidup bukanlah perayaan atas kesalehan, melainkan pengakuan atas kefakiran manusia di hadapan Allah SWT. Orang yang disebut sang Raja Para Sufi justru menutup perjalanan panjang spiritualnya dengan meniadakan diri, melepas seluruh klaim ketaatan, dan bersandar sepenuhnya pada rahmat Ilahi.

2 hours ago
2















































