REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Co-sutradara film dokumenter pemenang Oscar No Other Land, Hamdan Ballal, mengatakan rumah dan keluarganya kembali diserang oleh para pemukim Israel. Menurut Ballal, sekelompok pemukim yang kerap mengintimidasi warga Palestina mendatangi rumahnya di Susya, kawasan Massafer Yatta, Tepi Barat, pada Ahad (15/2/2026) waktu setempat.
Ballal mengatakan dua pekan lalu pengadilan Israel telah mengeluarkan perintah yang melarang non-penduduk memasuki Massafer Yatta. Ketika para pemukim Israel datang, Ballal mencoba untuk melaporkannya ke polisi. Namun yang datang justru dua tentara, ditemani seorang pemimpin pemukim Israel.
"Tentara datang lebih dulu dan langsung menyerbu rumah kami, menyerang semua orang di dalamnya," kata Ballal seperti dilansir The Guardian, Rabu (18/2/2026).
Pada Maret tahun lalu, Ballal (36 tahun) juga terluka dalam serangan pemukim tak lama setelah No Other Land dianugerahi Oscar. Adapun ketika serangan terbaru pada Ahad kemarin, Ballal mengaku sedang tidak berada di rumah, namun pemukim Israel malah menyerang saudaranya.
"Dia memberi perintah kepada tentara, lalu mereka memanggil saudara saya dan mendorongnya ke tanah sambil meminta kartu identitasnya," kata Ballal.
"Salah satu dari mereka mencekik leher saudara saya dan mendorongnya dengan sangat keras sehingga saudara saya tidak bisa bernapas. Wajahnya membiru, lehernya memar, jadi dia dibawa ke rumah sakit," ujar Ballal.
Selain itu, kerabat yang mencoba mendatangi rumah Ballal dicegat. Lalu menurut Ballal, dua saudara laki-lakinya, seorang keponakan, dan seorang sepupu ditahan dengan borgol dan penutup mata selama tiga jam di pangkalan militer Israel.
"Mereka baru dibebaskan pada malam hari. Mereka dilepaskan begitu saja di jalan yang digunakan oleh para pemukim, sehingga mereka semakin berisiko," kata Ballal.
Seorang juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membenarkan penahanan tersebut tetapi mereka membantah serangan itu. "Pada Ahad malam, tentara IDF menahan sejumlah warga Palestina di dekat daera Susya, setelah mereka menolak untuk mengidentifikasi diri kepada para tentara. Tak lama setelah ditahan, warga Palestina tersebut dibebaskan," klaim juru bicara IDF.
Film dokumenter No Other Land memenangkan penghargaan Oscar atau Academy Award tahun lalu untuk film dokumenter terbaik. Film ini menggambarkan kehancuran komunitas Palestina di Masafer Yatta, di perbukitan Hebron selatan, oleh pemukim Israel dengan dukungan tentara.
Kebrutalan perlakuan terhadap penduduk desa Palestina mengejutkan penonton di seluruh dunia dan menyoroti kampanye pembangunan pemukiman, intimidasi terhadap warga Palestina, dan penggusuran desa di seluruh Tepi Barat, yang dipimpin oleh anggota kabinet Israel yang ekstremis. Kelompok hak asasi manusia dan pelapor khusus PBB menyebut kampanye tersebut sebagai "pembersihan etnis".
Pemerintah Israel pada Ahad juga membuka pendaftaran tanah untuk Tepi Barat, memungkinkan warga Israel untuk mengajukan klaim kepemilikan atas wilayah pendudukan tersebut untuk pertama kalinya sejak proses pendaftaran dibekukan setelah perang 1967, ketika Israel merebut wilayah tersebut dari Yordania. Langkah ini secara langsung menentang pasal 49 Konvensi Jenewa Keempat, yang melarang kekuatan pendudukan untuk memindahkan penduduk sipilnya sendirì ke wilayah pendudukan.

7 hours ago
7















































