
Oleh: Imam Nur Suharno; Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuingan, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID,Idul Adha sebentar lagi. Bagi umat Islam, ini bukan sekadar hari menyembelih hewan kurban. Ini momentum untuk bertanya pada diri sendiri sejauh mana semangat kurban sudah kita hidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Semangat berkurban ini hendaknya menjadi spirit kolektif dalam membangun bangsa dan negara. Siapapun dan apapun profesinya, seluruh elemen bangsa harus tetap semangat berkurban dengan melepaskan egonya dan siap bersinergi serta berkolaborasi dalam membangun negeri.
Bagaimana bentuk kurban kita?
Bagi jurnalis dan penggiat media, berkurban artinya menyajikan berita yang menyejukkan, bukan yang memprovokasi. Informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan hoax.
Bagi pengusaha, berkurban itu berbisnis dengan cara yang halal dan menunaikan hak karyawan sebelum keringatnya kering. Bagi yang diberi kelapangan rezeki, berkurban adalah dermawan, berbagi tanpa hitungan.
Bagi orang tua, berkurban adalah menjadikan keluarga sebagai ladang penyiapan generasi yang berakhlakul karimah. Bagi anak, berkurban adalah berbakti kepada orang tua, membahagiakan, dan menjaga nama baik keluarga.
Bagi guru, berkurban adalah mengerahkan seluruh potensi untuk membentuk siswa yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Bagi siswa, berkurban adalah mengerahkan seluruh potensi untuk menyerap ilmu dan mengamalkan, berbakti kepada guru, menjaga nama baik almamater, dan mempersiapkan diri untuk turut dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bagi pemimpin, berkurban adalah memastikan rakyatnya tidak ditelantarkan, dan bekerja keras agar hidup masyarakat menjadi lebih sejahtera. Bagi rakyat, berkurban adalah mendukung kebijakan yang membawa maslahat, sekaligus berani mengingatkan jika ada penyimpangan.
Bagi politisi, berkurban adalah mengabdikan pikiran dan tenaga untuk rakyat yang memberi mandat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Bagi pejabat, berkurban adalah memberi pelayanan terbaik, bukan mencari keuntungan dari uang rakyat.
Intinya, apapun peran kita, berkurban adalah memberi manfaat sebesar-besarnya untuk umat, bangsa, dan negara. Karena kebaikan tertinggi adalah ketika kita hidup untuk orang lain.
Selain itu, setiap orang akan mempertanggungjawabkan atas apa yang dilakukan. Tanggung jawab didefinisikan sebagai sikap dan perilaku seseorang untuk memenuhi tugas dan kewajiban terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, dan Allah SWT. Pada intinya, tanggung jawab bisa dijadikan tolok ukur sikap dan perilaku seorang individu dalam melaksanakan kewajibannya.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
4

















































