Wanita melakukan pilates (ilustrasi). Beberapa tahun terakhir, jagat media sosial seolah dipenuhi oleh estetika studio pilates dengan alat reformer yang tampak futuristik.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa tahun terakhir, jagat media sosial seolah dipenuhi oleh estetika studio pilates dengan alat reformer yang tampak futuristik. Unggahan para instruktur dan pesohor sering kali menjanjikan hasil yang menggiurkan yakni perut rata, bokong kencang, hingga lengan yang tampak jenjang namun berotot.
Seiring dengan bergesernya tren kecantikan dari "kurus" menjadi "kuat", banyak orang berbondong-bondong mengikuti kelas ini dengan harapan mendapatkan massa otot yang nyata. Namun, apakah pilates benar-benar bisa membangun otot secara signifikan sebagaimana angkat beban? Ataukah manfaat utamanya terletak di bagian lain?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bahwa tidak semua metode pilates diciptakan sama. Metode yang diciptakan oleh Joseph Pilates seabad lalu kini telah berkembang menjadi berbagai aliran, mulai dari klasik yang kaku hingga kontemporer yang lebih intens.
Menurut fisioterapis dan instruktur pilates bersertifikat, Rachel Miller, PT, DPT, kunci dari metode ini adalah presisi. "Dalam pilates, latihan biasanya dilakukan secara perlahan dengan jumlah repetisi yang sedikit untuk fokus pada kualitas daripada kuantitas," ujar Miller dikutip dari laman Women's Health pada Kamis (2/4/2026).
Karena gerakannya lambat, pilates cenderung melatih serat otot tipe 1 atau slow-twitch. Fisioterapis dan pelatih kebugaran, Shannon Ritchey, PT, DPT, mengatakan serat otot ini bertanggung jawab atas daya tahan tubuh.
"Jenis metode tersebut umumnya menargetkan serat otot kecil yang bertanggung jawab atas ketahanan otot. Daya tahan otot, khususnya dalam pilates, adalah kemampuan untuk menahan posisi lebih lama. Pada dasarnya, Anda meningkatkan stamina tubuh," kata Ritchey.

3 hours ago
3















































