REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance semakin menempatkan dirinya di barisan terdepan calon penerus Donald Trump menjelang pemilihan presiden 2028. Panggung Konvensi Pemilihan Paruh Waktu Partai Republik di Dallas, Texas, pada Kamis menjadi ujian politik awal bagi Vance untuk menunjukkan apakah ia mampu mewarisi basis populis yang dibangun Trump selama satu dekade terakhir.
Vance mendapat slot pidato utama pada jam tayang utama tepat sebelum Trump menyampaikan pidato penutup konvensi. Penempatan itu memperlihatkan meningkatnya bobot politik mantan senator Ohio tersebut di dalam Partai Republik, meski Vance belum menyatakan akan mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.
Pertanyaan mengenai penerus Trump mulai sulit dihindari karena Amandemen ke-22 Konstitusi AS mencegah seseorang dipilih sebagai presiden lebih dari dua kali. Dengan Trump tidak dapat dipilih untuk masa jabatan ketiga, persaingan mengenai siapa yang akan memimpin gerakan Make America Great Again atau MAGA setelah masa pemerintahannya mulai mengemuka dua tahun sebelum pemilu presiden berikutnya.
Reuters menilai pidato Vance di Dallas menyerupai pidato seorang kandidat dalam konvensi pencalonan presiden. Pidato sekitar 40 menit itu lebih disiplin dibandingkan gaya Trump yang kerap keluar dari naskah dan memberikan gambaran mengenai bagaimana Vance mungkin mengemas populisme Trump dengan penekanan lebih besar pada keluarga, agama, anak-anak, dan identitas nasional.
Seruan '48' untuk Vance
Kekuatan Vance terlihat dari respons para delegasi di American Airlines Center. Sejumlah pendukung meneriakkan “48, 48”, merujuk pada kemungkinan Vance menjadi presiden ke-48 Amerika Serikat setelah Trump yang merupakan presiden ke-47.
Vance tidak menerima seruan itu sebagai deklarasi pencalonan. Ia justru meminta pendukung Republik memusatkan perhatian pada pemilihan paruh waktu 3 November 2026 sebelum membicarakan ambisi politik berikutnya.
“Kita harus menyelesaikan urusan November ini terlebih dahulu, setelah itu barulah kita memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya,” kata Vance, sebagaimana diberitakan Associated Press pada Jumat, 11 September 2026. Pernyataan itu tidak menutup kemungkinan pencalonannya, tetapi sekaligus menunjukkan Vance memahami bahwa nasib Partai Republik pada 2026 akan memengaruhi pertarungan 2028.
Pidato Vance menjadikan apa yang ia sebut sebagai “American birthright” sebagai salah satu tema utama. Istilah tersebut tidak merujuk pada doktrin hukum tentang kewarganegaraan otomatis berdasarkan tempat kelahiran, melainkan gagasan Vance bahwa warga Amerika mewarisi keamanan, kemakmuran, kebebasan, keluarga, dan sebuah negara yang harus mereka pertahankan untuk generasi berikutnya.
“Kita menerima warisan nasional ini, dan kita akan memperjuangkannya dengan memilih Partai Republik pada November,” kata Vance, sebagaimana diberitakan Associated Press pada Kamis, 10 September 2026. Vance berulang kali menghubungkan kemenangan Republik dalam pemilu paruh waktu dengan upaya mempertahankan arah politik yang telah dibangun pemerintahan Trump.

3 hours ago
5
















































