
Oleh: Hendarman (Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor
REPUBLIKA.CO.ID, Ada pelajaran sederhana yang sebenarnya sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, yaitu menggunakan air secukupnya. Contoh sederhana yaitu menutup keran setelah mencuci tangan, tidak membiarkan air mengalir ketika menyikat gigi, menggunakan air bekas cucian untuk keperluan tertentu, segera melaporkan keran yang bocor, atau mandi dengan waktu yang tidak berlebihan.
Masalahnya, kebiasaan tersebut sering kali berhenti sebagai pengetahuan. Anak tahu bahwa air harus dihemat, tetapi belum tentu melakukannya. Murid dapat menjawab dengan benar ketika ditanya mengapa air harus dilestarikan, tetapi mungkin masih membiarkan keran terbuka ketika meninggalkan kamar mandi.
Pendidikan tidak cukup membuat anak tahu apa yang baik, tetapi juga membentuk kemauan dan kebiasaan untuk melakukan apa yang baik. Menghemat air sesungguhnya merupakan contoh konkret pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai tanggung jawab, disiplin, kepedulian, gotong royong, dan kesadaran bahwa sumber daya alam bukan sesuatu yang tidak terbatas.
OECD mengingatkan bahwa pengetahuan tentang lingkungan tidak otomatis berubah menjadi tindakan. Dalam berbagai negara OECD, kesadaran lingkungan pada murid relatif tinggi, tetapi proporsi mereka yang benar-benar melakukan tindakan positif terhadap lingkungan jauh lebih rendah. Pendidikan seharusnya membantu murid bergerak dari awareness menuju action.
Dari tahu menjadi terbiasa
Persoalan klasik dalam pendidikan karakter yaitu murid terlalu sering diajarkan nilai melalui kata-kata, tetapi kurang diberi kesempatan untuk mempraktikkannya. Murid diberi tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik. Namun, apakah sekolah menyediakan sistem yang membuat mereka terbiasa memilah dan membuang sampah?
Murid diajarkan bahwa air sangat berharga. Namun, apakah mereka pernah menghitung berapa banyak air yang digunakan sekolah dalam satu minggu? Apakah mereka pernah mencari keran yang bocor? Apakah mereka pernah membuat komitmen hemat air bersama orang tua?
Dalam perspektif social learning, perilaku anak berkembang melalui interaksi dengan lingkungan sosial. Ini termasuk melalui contoh yang dilihat dari guru, teman sebaya, orang tua, dan institusi tempat mereka belajar. Penelitian mengenai pembelajaran sosial pada murid di sekolah juga menunjukkan pentingnya lingkungan belajar dalam membentuk perilaku konsumsi yang berkelanjutan.
Yang sering muncul adalah inkonsistensi. Guru berbicara tentang hemat air, tetapi membiarkan keran sekolah bocor. Sekolah memasang poster “Hemat Air”, tetapi fasilitas sanitasi boros air. Padahal, murid seharusnya belajar dari kenyataan untuk membentuk perilaku, bukan hanya dari poster.
Sesungguhnya sekolah dapat memulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, setiap kelas memiliki “duta air” yang bertugas mengingatkan teman-temannya. Murid melakukan pemeriksaan keran setiap pagi. Guru meminta murid mencatat penggunaan air sekolah selama satu bulan. Hasilnya kemudian dibahas dalam pelajaran matematika, IPA, IPS, bahkan bahasa Indonesia.
Dengan cara ini, air tidak hanya menjadi topik pelajaran IPA. Air menjadi konteks pembelajaran lintas mata pelajaran sekaligus media pendidikan karakter.
Praktik baik
Salah satu contoh praktik baik yang menarik adalah Singapura. Sebagai negara dengan keterbatasan sumber daya air, Singapura tidak memperlakukan pendidikan air sebagai kampanye sesaat. PUB, badan pengelola air nasional Singapura, bekerja sama dengan sekolah dan kementerian pendidikan mengenalkan perjalanan air kepada peserta didik sejak usia dini. Programnya mencakup prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi.
Di sekolah dasar, misalnya, siswa dapat melakukan water audit. Mereka belajar melihat dan menghitung penggunaan air di lingkungan sekolah. Pada jenjang lain, siswa melakukan investigasi lapangan dan mempelajari bagaimana air dikelola.
Pesannya sangat sederhana, yaitu murid “tidak hanya diberi tahu bahwa air itu berharga; mereka dibuat mengalami mengapa air itu berharga”. Praktik seperti ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu berbentuk ceramah mengenai nilai. Nilai justru dapat tumbuh melalui pengalaman nyata.
Praktik serupa ditemukan di Queensland, sebuah negara bagian di Australia. Pemerintah menyediakan Waterwise Schools Toolkit yang mengintegrasikan isu air ke dalam berbagai mata pelajaran. Murid tidak sekadar membaca tentang air, tetapi melakukan school water audit, menyelidiki keran yang menetes, mempelajari perjalanan air, dan mengkaji sumber air berkelanjutan.
Pelajaran penting dari pengalaman tersebut adalah bahwa pendidikan air menjadi lebih efektif ketika sekolah menjadi laboratorium kehidupan. Sekolah tidak hanya mengajarkan “air harus dihemat”, tetapi menunjukkan bagaimana air digunakan, berapa banyak yang digunakan, di mana pemborosan terjadi, dan apa yang dapat dilakukan untuk menguranginya.
Murid sebagai agen perubahan keluarga
Hal lain yang tidak kalah penting adalah hubungan antara sekolah dan rumah. Anak menghabiskan sebagian waktunya di sekolah, tetapi kebiasaan juga terbentuk di rumah. Karena itu, program hemat air di sekolah sebaiknya tidak berhenti di pagar sekolah.
Murid dapat diberikan tugas sederhana: melakukan home water audit bersama orang tua. Mereka menghitung berapa banyak keran di rumah, apakah terdapat kebocoran, bagaimana kebiasaan mandi anggota keluarga, atau apakah air digunakan secara berlebihan ketika mencuci kendaraan. Tugas tersebut bukan untuk menyalahkan orang tua. Sebaliknya, anak dan orang tua diajak menjadi satu tim untuk menghemat air.
Pendekatan seperti ini memiliki dasar yang kuat. Penelitian mengenai pendidikan lingkungan di Palembang pada 2025, misalnya, secara khusus mengkaji hubungan pendidikan lingkungan dengan transfer pengetahuan antargenerasi dan perilaku rumah tangga terkait konservasi air. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan anak dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memengaruhi perilaku keluarga.
Seorang murid dapat menjadi “duta air” bukan karena memakai atribut khusus, tetapi karena ia membawa kebiasaan baru dari sekolah ke rumah. “Bu, kerannya jangan dibiarkan terbuka.” “Pak, air bekas ini masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman.” “Kalau mencuci tangan, tidak perlu airnya mengalir terus.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu justru merupakan bentuk pendidikan karakter yang hidup.
Membangun budaya “setetes demi setetes”
Menghemat air mungkin terlihat sebagai tindakan kecil. Menutup keran mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Mengurangi waktu mandi mungkin hanya beberapa menit. Namun, pendidikan memang sering bekerja melalui tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Hari ini seorang anak menutup keran. Besok ia mengingatkan temannya. Minggu depan ia mengajak orang tuanya memeriksa kebocoran di rumah. Beberapa bulan kemudian, keluarga tersebut memiliki kebiasaan baru.
Di situlah karakter terbentuk: bukan melalui satu kali nasihat, tetapi melalui pengetahuan yang dipraktikkan, perilaku yang diulang, keteladanan yang dilihat, dan lingkungan yang mendukung.
Penelitian terbaru di Singapura bahkan menguji intervensi perilaku mandi hemat air pada lebih dari 1.100 murid sekolah dasar. Studi tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan kebiasaan hemat air pada murid dapat dirancang dan diuji secara nyata, bukan sekadar diasumsikan terjadi karena siswa telah menerima informasi.
Indonesia tidak harus meniru Singapura atau Australia secara utuh. Kondisi sosial, budaya, geografis, dan ketersediaan air kita berbeda. Namun, prinsipnya dapat dipelajari, yaitu pendidikan harus membuat anak mengalami, melakukan, merefleksikan, dan membiasakan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan karakter bukan ketika murid mampu menjawab soal “mengapa air harus dihemat?”. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika ia secara spontan menutup keran yang terbuka. Dan ketika sampai di rumah, ia melakukan hal yang sama.

7 hours ago
19
















































