REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Pemerintah Indonesia menegaskan tiga strategi inti untuk mengakselerasi investasi hilirisasi dan pertumbuhan ekonomi di seluruh pelosok negeri. Ketiga pilar utama tersebut meliputi perencanaan strategis, eksekusi yang efisien, serta pemberian insentif yang kompetitif.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, dalam pernyataannya pada Jumat, menjelaskan bahwa menarik modal berkelanjutan memerlukan kepastian agar investasi yang masuk tetap kompetitif sekaligus mendorong kemajuan teknologi. Ia menekankan bahwa modal asing dan domestik harus diarahkan ke fasilitas produksi, alih teknologi, riset, inovasi, serta penguasaan proses manufaktur yang kompleks.
Peta Jalan Investasi Senilai Rp618 Miliar Dolar AS
Dalam kerangka perencanaan strategisnya, kementerian telah memetakan peluang yang menargetkan 28 komoditas di delapan sektor prioritas melalui Strategic Investment Downstreaming Roadmap. Inisiatif ini merepresentasikan potensi jalur investasi senilai 618,1 miliar dolar AS dan berpotensi menciptakan tiga juta lapangan kerja.
Untuk meningkatkan eksekusi dan kepastian bisnis, pemerintah terus mereformasi berbagai kebijakan perizinan. Salah satunya adalah implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko serta integrasi layanan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Reformasi kebijakan ini bertujuan menghilangkan tumpang tindih kewenangan antarlembaga, menyederhanakan perizinan, dan memberikan kepastian regulasi yang lebih besar bagi investor.
Beragam Insentif Fiskal untuk Proyek Berkelanjutan
Melengkapi kemudahan regulasi, Indonesia meluncurkan serangkaian insentif fiskal yang terarah. Insentif tersebut mencakup tax holiday, tax allowance, daftar induk (master list), dan skema super tax deduction untuk menarik proyek hilirisasi bernilai tinggi dan berkelanjutan.
Strategi ini telah membuahkan hasil ekonomi yang nyata. Realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun (sekitar 19 miliar dolar AS) pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menyumbang 29,7 persen dari total investasi nasional dan menandai peningkatan 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi asing langsung (FDI) menjadi mesin utama, menyumbang Rp212,8 triliun (13,4 miliar dolar AS) atau 70,9 persen dari total realisasi hilirisasi. Sementara itu, investasi langsung domestik (DDI) menyumbang Rp87,3 triliun (5,5 miliar dolar AS), atau 29,1 persen. Sebanyak 75,7 persen dari investasi hilirisasi—senilai Rp227,3 triliun (14,3 miliar dolar AS)—terealisasi di luar Pulau Jawa, menunjukkan kontribusi sektor ini terhadap pemerataan pembangunan daerah.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

5 hours ago
10

















































