Terungkap, Tumbuhan Punya Sistem Komunikasi untuk Bertahan Saat Bumi Memanas

7 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini tumbuhan kerap dianggap sebagai organisme pasif yang hanya bereaksi terhadap perubahan lingkungan secara sederhana. Namun penelitian terbaru dari Australia menunjukkan bahwa tanaman memiliki mekanisme internal yang jauh lebih kompleks dari yang selama ini dipahami ilmuwan.

Tim peneliti dari Australian National University (ANU) menemukan adanya sistem koordinasi internal yang memungkinkan tanaman mempertahankan proses fotosintesis bahkan ketika menghadapi suhu ekstrem dan udara yang sangat kering. Temuan tersebut membuka perspektif baru tentang cara tumbuhan "berkomunikasi" antarjaringan untuk bertahan hidup di tengah tekanan iklim yang semakin berat.

Studi yang dipimpin para ilmuwan ANU itu menjadi penelitian pertama yang berhasil memisahkan dampak panas dan kekeringan udara terhadap fotosintesis pada berbagai tingkat karbon dioksida (CO2). Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) Amerika Serikat.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan beranggapan bahwa ketika udara menjadi lebih kering, tanaman akan merespons dengan menutup stomata atau pori-pori daun untuk mengurangi kehilangan air. Konsekuensinya, pasokan karbon dioksida yang dibutuhkan untuk fotosintesis juga ikut berkurang sehingga kemampuan tanaman menghasilkan energi menurun.

Namun penelitian terbaru ini menunjukkan gambaran yang jauh lebih rumit. Para peneliti menemukan bahwa tumbuhan memiliki mekanisme internal lain yang selama ini kurang mendapat perhatian, yakni konduktansi mesofil, sebuah proses yang mengatur pergerakan karbon dioksida di dalam jaringan daun menuju kloroplas, tempat fotosintesis berlangsung.

Penulis utama penelitian tersebut, Hu Xingyu dari Sekolah Riset Biologi ANU, mengatakan tanaman ternyata mampu mengoordinasikan berbagai proses internal untuk menjaga pasokan karbon dioksida tetap stabil meskipun berada dalam kondisi lingkungan yang tidak bersahabat.

"Konduktansi mesofil merespons panas dan kekeringan udara dengan arah yang berbeda dari konduktansi stomata, dan koordinasi ini membantu mempertahankan lingkungan CO2 yang relatif konservatif di dalam kloroplas," kata Hu.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa berbagai bagian di dalam daun tidak bekerja secara terpisah. Sebaliknya, terdapat mekanisme koordinasi yang memungkinkan tanaman menyeimbangkan kebutuhan air dan karbon dioksida secara bersamaan sehingga fotosintesis tetap berlangsung.

Para peneliti menguji mekanisme tersebut pada sejumlah tanaman, termasuk kapas, bunga matahari, dan kacang kerdil. Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman mampu mengimbangi tekanan akibat panas dan kekeringan dengan menyesuaikan pergerakan karbon dioksida di dalam jaringan daun serta meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya biokimia.

Penemuan ini menjadi penting karena fotosintesis merupakan fondasi kehidupan di Bumi. Melalui proses tersebut, tumbuhan mengubah energi matahari menjadi bahan makanan sekaligus menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Gangguan terhadap fotosintesis dapat berdampak langsung terhadap produksi pangan global dan keseimbangan iklim dunia.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
Politics | | | |