Teknologi Hijau dan Kuda Lumping Perkuat Ekonomi Desa Wisata Ngampungan Jombang

3 hours ago 4

loading...

Dosen Unitomo Surabaya dan Unitri Malang berkolaborasi bersama Pemerintah Desa Ngampungan, Pokdarwis Pandansili, dan kelompok PKK desa. Foto/Dok. SindoNews

JOMBANG - Pengembangan desa wisata tak lagi hanya mengandalkan keindahan alam. Diversifikasi produk, penggunaan teknologi tepat guna, penguatan UMKM, hingga pelestarian kesenian lokal menjadi bagian penting menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Pendekatan tersebut mulai dikembangkan di Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB), Wisata Pandansili didorong tidak hanya menjadi lokasi kunjungan, tetapi berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang menghubungkan pariwisata, produksi air mineral, UMKM, dan kesenian tradisional.

Program yang memasuki tahun kedua pada 2026 ini memperoleh pendanaan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek Tahun Anggaran 2026. Program dilaksanakan melalui kolaborasi dosen Universitas Dr. Soetomo ( Unitomo ) Surabaya dan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang bersama Pemerintah Desa Ngampungan, Pokdarwis Pandansili, dan kelompok PKK desa. Baca juga: Menpar Widiyanti Apresiasi Astra Rawat Budaya Osing

Ketua tim Sayekti Suindyah menjelaskan, program tahun kedua diarahkan untuk memperkuat fondasi kemandirian ekonomi Desa Ngampungan. Pengembangan dilakukan melalui tiga jalur yang saling berkaitan, yakni diversifikasi produk air mineral yang dikelola Pokdarwis Pandansili, penguatan UMKM kelompok PKK, serta pengembangan kesenian kuda lumping sebagai bagian dari daya tarik Wisata Pandansili.

“Program ini merupakan bentuk kolaborasi akademisi, pemerintah desa, Pokdarwis, dan kelompok PKK untuk mendorong Desa Ngampungan menjadi salah satu desa mandiri berkelanjutan di Kabupaten Jombang,” kata Sayekti yang juga dosen Unitomo ini.

Transformasi pada unit usaha Pokdarwis Pandansili dilakukan secara bertahap. Pada tahun pertama, tim memberikan dukungan berupa mesin produksi air mineral yang dilengkapi teknologi membran reverse osmosis (RO) dan ultraviolet (UV). Teknologi tersebut kemudian digunakan Pokdarwis untuk memproduksi air kemasan botol berukuran 500 mililiter.
Memasuki tahun kedua, kapasitas produksi mulai diarahkan pada diversifikasi produk. Pokdarwis memperoleh dukungan mesin filling cup sealing satu lini untuk memproduksi air minum dalam kemasan gelas ukuran 220 mililiter.

Read Entire Article
Politics | | | |