Sindiran Menohok Rasulullah untuk Teman Buruk

7 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Islam menganjurkan umat Muslim untuk memperbanyak pertemanan dengan orang-orang saleh karena dapat saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjauhkan dari kemaksiatan. Dalam sejumlah riwayat bahkan disebutkan teman yang saleh dapat memberikan syafaat di akhirat.

Karena itu, seorang Muslim diminta berhati-hati dalam memilih teman. Islam memberikan tuntunan agar pertemanan membawa seseorang semakin dekat kepada Allah SWT dan mencegah dari perbuatan dosa.

Dalam kitab Wasiyatul Musthafa, yang berisi wasiat Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan disusun Imam Asy-Sya’rani, dijelaskan tentang ciri teman yang buruk, yakni tidak peduli terhadap sahabatnya dan gemar membuka rahasia.

يَا عَلِيُّ، بِئْسَ الصَّدِيْقُ الَّذِيْ يُقَصِّرُ فِيْ صَدِيْقِهِ وَيُفْشِيْ سِرَّهُ

Transliterasi:

Yā ‘Aliyyu, bi’sa ash-shadīqu alladzī yuqashshiru fī shadīqihi wa yufsyī sirrahu.

Arti:

“Wahai Ali, seburuk-buruk teman adalah orang yang teledor terhadap temannya dan menyebarluaskan rahasianya.”

Dalam penjelasannya, sikap teledor terhadap teman tidak hanya terkait urusan lahiriah, tetapi juga batiniah. Secara lahiriah, seseorang tidak peduli ketika temannya mengalami kesulitan hidup atau kekurangan kebutuhan pokok. Sedangkan secara batiniah, ia membiarkan temannya terjerumus dalam maksiat tanpa pernah mengingatkan atau mengajaknya menuju kebaikan.

Selain itu, teman yang buruk juga digambarkan sebagai sosok yang gemar menyebarkan aib, membuka rahasia, dan membicarakan keburukan temannya sendiri.

Karena itu, umat Islam diminta jeli dalam memilih lingkungan pergaulan. Sebab tidak semua teman memiliki ketulusan dalam berteman. Ada yang menghormati dan menyayangi sahabatnya, tetapi ada pula yang hanya ingin dipuji dan diagungkan tanpa mau membantu atau peduli kepada orang lain.

Dalam riwayat yang sama, Rasulullah SAW juga menjelaskan tanda-tanda pertemanan yang baik.

يَا عَلِيُّ، لِلصَّدَاقَةِ عَلَامَاتٌ أَنْ يَجْعَلَ مَالَهُ دُوْنَ مَالِكَ وَنَفْسَهُ دُوْنَ نَفْسِكَ وَعِرْضَهُ دُوْنَ عِرْضِكَ

Transliterasi:

Yā ‘Aliyyu, lish-shadāqati ‘alāmātun an yaj‘ala mālahu dūna mālika wa nafsahu dūna nafsika wa ‘irdhahu dūna ‘irdhika.

Arti:

“Wahai Ali, pertemanan memiliki tanda-tanda, yakni seseorang tidak ingin mengungguli hartamu, rendah hati terhadap dirimu, dan menghormati kehormatanmu.”

Read Entire Article
Politics | | | |