Sebuah ban dibakar di luar Pusat Perawatan Ebola di Rumah Sakit Umum Rwampara saat aksi mogok kerja oleh staf medis di Rwampara, Ituri, Republik Demokratik Kongo, Senin (13/7/2026). Puluhan staf medis dan pekerja lainnya di pusat perawatan tersebut melakukan aksi mogok akibat belum dibayarnya gaji dan bonus mereka sejak wabah Ebola bermula pada Mei 2026. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
Di balik pakaian pelindung yang menutupi tubuh mereka, para tenaga kesehatan di timur Republik Demokratik Kongo memikul beban yang tak ringan. Setiap hari mereka berhadapan dengan pasien Ebola, menelusuri rantai penularan, mengangkut korban, hingga memakamkan jenazah dengan prosedur yang ketat. Namun, setelah berminggu-minggu bekerja di garis depan, mereka justru menghadapi persoalan lain yang tak kalah berat: gaji dan insentif yang tak kunjung dibayarkan. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
Puncaknya terjadi pada Senin (13/7), ketika puluhan petugas di Rumah Sakit Umum Rwampara, Provinsi Ituri, memutuskan menghentikan aktivitas mereka. Aksi mogok dilakukan oleh epidemiolog, pelacak kasus, sopir ambulans, hingga petugas pemakaman. Mereka bahkan menutup rumah sakit dan memblokade jalan menuju fasilitas kesehatan sebagai bentuk protes atas keterlambatan pembayaran upah dan bonus. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
Gelombang protes telah muncul beberapa hari sebelumnya. Sejak awal Juli, tenaga kesehatan di sejumlah pusat penanganan Ebola di Bunia, wilayah yang menjadi episentrum wabah, telah menyampaikan ultimatum kepada pemerintah. Mereka mengaku belum menerima gaji maupun insentif sejak wabah Ebola diumumkan secara resmi pada 15 Mei 2026. Selain itu, mereka juga mengeluhkan minimnya perlengkapan pelindung, besarnya risiko pekerjaan, dan kondisi kerja yang dinilai tidak sebanding dengan upah. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
Aksi mogok tenaga medis menjadi ironi, karen terjadi saat Republik Demokratik Kongo sedang menghadapi wabah Ebola terbesar yang pernah tercatat di Afrika untuk jenis virus Bundibugyo. Hingga pertengahan Juli, lebih dari 1.900 kasus telah terkonfirmasi dengan ratusan korban meninggal dunia. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
Bagi warga di Ituri, mogok kerja itu memunculkan kecemasan baru. Mereka khawatir penghentian layanan akan memperlambat penanganan pasien, pelacakan kontak erat, hingga proses pemakaman aman yang menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan Ebola. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
Pemerintah melalui Menteri Kesehatan Roger Kamba mengakui adanya kendala dalam proses pembayaran. Menurut pemerintah, verifikasi daftar penerima insentif menemukan sejumlah nama yang tidak semestinya masuk dalam data sehingga pencairan dana harus ditunda untuk memastikan pembayaran tepat sasaran. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
Di tengah krisis itu, para dokter, perawat, petugas laboratorium, sopir ambulans, hingga tim pemakaman berada dalam dilema. Mereka memahami bahwa setiap jam pelayanan sangat berarti bagi keselamatan pasien. Namun di sisi lain, mereka juga harus menghidupi keluarga yang bergantung pada penghasilan yang belum mereka terima selama berbulan-bulan. (FOTO : EPA/DIEUDONNE DIROLE)
REPUBLIKA.CO.ID, KONGO -- Staf medis melakukan aksi mogok kerja di luar Pusat Perawatan Ebola di Rumah Sakit Umum Rwampara di Rwampara, Ituri, Republik Demokratik Kongo, Senin (13/7/2026).
Puluhan staf medis dan pekerja lainnya di pusat perawatan tersebut melakukan aksi mogok akibat belum dibayarnya gaji dan bonus mereka sejak wabah Ebola bermula pada Mei 2026.
sumber : EPA

10 hours ago
14

















































