REPUBLIKA.CO.ID, MAROS, – Common Room Networks Foundation bersama Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros menggelar Rural ICT Camp 2026 di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada 14–18 September. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui pemanfaatan teknologi dan konektivitas, khususnya di wilayah perdesaan dan pesisir.
Manajer Media dan Kerja Sama Common Room Networks Foundation, Tisha Amelia, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan upaya adaptasi iklim. “Perkembangan teknologi dan konektivitas perlu berjalan beriringan dengan upaya masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah perdesaan, pesisir, dan daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur komunikasi,” ujarnya di Maros, Jumat.
Rural ICT Camp merupakan kegiatan tahunan yang berfokus pada pelatihan pengembangan infrastruktur internet dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di daerah terpencil. Pada edisi 2026 ini, perubahan iklim dan ketahanan masyarakat menjadi fokus utama, melanjutkan pembelajaran dari program Community-based Innovation Lab for Climate Resilience (Co_LABS) yang telah dikembangkan sejak 2024.
Manfaatkan Sensor Lingkungan dan IoT
Program Co_LABS memanfaatkan sensor lingkungan, Internet untuk Segala (IoT), serta pengumpulan data berbasis warga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya. Pengalaman pelaksanaan Co_LABS di Maros, termasuk pemanfaatan teknologi untuk memantau lingkungan pesisir dan mendukung mata pencaharian masyarakat, menjadi dasar pembelajaran penting dalam Rural ICT Camp 2026.
Mengusung tema “Internet Komunitas yang Bermakna untuk Ketahanan Iklim dan Kemandirian Warga”, kegiatan ini mempertemukan sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang. Mereka berasal dari komunitas, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, pelaku UMKM, praktisi teknologi, serta mitra pembangunan dari Indonesia dan Filipina.
Tisha menekankan bahwa internet komunitas didorong untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar perluasan akses. “Kami mendorong internet komunitas menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan iklim dan kemandirian warga, bukan sekadar memperluas akses terhadap jaringan internet,” katanya. Melalui internet komunitas, masyarakat dapat memantau kondisi lingkungan, mendukung kesiapsiagaan bencana, mengelola sumber daya, serta mengambil keputusan berbasis kebutuhan lokal.
Kemandirian Masyarakat Berbasis Potensi Lokal
Kepala BRPBAPPP Maros, Indra Jaya Asaad, menyatakan bahwa Rural ICT Camp 2026 sejalan dengan tujuan lembaganya dalam membangun kemandirian masyarakat berdasarkan potensi yang dimiliki. Menurutnya, teknologi, pendidikan, diversifikasi ekonomi, dan adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan bagian yang saling berkaitan dalam memperkuat kapasitas masyarakat.
“Teknologi harus digunakan untuk memperkuat kemampuan masyarakat, bukan justru membuat masyarakat semakin bergantung,” tegas Indra. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu mengelola sumber daya secara mandiri, mengembangkan ekonomi lokal, serta menghadapi perubahan lingkungan dan iklim.
Indra juga menekankan pentingnya pelibatan berbagai elemen masyarakat. “Kami ingin anak muda, guru, dan perempuan menjadi bagian dari proses tersebut. Pendekatan itu merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim,” ujarnya. Sebelumnya, Rural ICT Camp telah sukses dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia, antara lain Jawa Barat, Bali, Aceh, dan Depok.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

6 hours ago
14

















































