Peta Perdagangan Minyak Dunia Berubah, Asia Kini Dipaksa Berburu dari Amerika

6 hours ago 18

loading...

Foto dari udara memperlihatkan sebuah kapal tanker minyak mentah di terminal minyak di lepas pantai Pulau Waidiao, Zhoushan, Provinsi Zhejiang, China, pada 4 Januari 2023. FOTO/China Daily via Reuters

WASHINGTON - Gangguan pasokan dan jalur pelayaran di Timur Tengah mulai mengubah peta perdagangan minyak dunia, dengan kilang-kilang Asia terpaksa harus meningkatkan pencarian pasokan dari Amerika Serikat (AS). Pergeseran tersebut terjadi ketika biaya pengiriman minyak dari Teluk Persia melonjak dan gangguan Selat Hormuz membatasi pilihan pasokan bagi negara-negara importir di Asia.

"Serangan yang kembali terjadi antara Angkatan Laut AS dan Iran terus mendorong tarif angkutan di sekitar Teluk ke level baru," kata Analis Vortexa Ioannis Papadimitriou, seperti dikutip Reuters, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga: Arab Saudi Temukan Harta Karun 110 Juta Ton Bijih Uranium usai Deal Nuklir dengan AS

Data Baltic Exchange menunjukkan tarif kapal tanker raksasa atau very large crude carriers (VLCC) yang mengangkut minyak dari Teluk Oman menuju China mencapai sekitar 450 dalam basis Worldscale, setara sekitar USD11,50 per barel. Tarif tersebut merupakan level tertinggi sejak patokan tersebut diperkenalkan pada awal tahun ini.

Lonjakan tarif angkutan juga merambat ke rute dari Pantai Teluk AS menuju Asia. Keterbatasan armada tanker akibat meningkatnya risiko pelayaran di Timur Tengah membuat biaya pengangkutan minyak dari wilayah produksi alternatif ikut naik, tetapi minyak AS masih dinilai kompetitif berdasarkan biaya sampai ke tujuan.

China menjadi salah satu pusat perubahan arus perdagangan tersebut. Kontrak berjangka minyak mentah berdenominasi yuan di Shanghai International Energy Exchange mencapai rekor 929,4 yuan atau sekitar USD138,50 per barel, seiring kekhawatiran terhadap pasokan Timur Tengah dan peningkatan pembelian oleh kilang China setelah sebelumnya mengandalkan persediaan domestik.

Tekanan pasokan semakin meningkat setelah serangan pesawat nirawak pada 10-11 September merusak jaringan pipa East-West Arab Saudi yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan terminal ekspor Yanbu di Laut Merah. Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi penutupan pipa tersebut sebagai langkah pencegahan, sementara gangguan diperkirakan berlangsung selama beberapa pekan.

Pipa East-West merupakan salah satu jalur penting Arab Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak agar tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz. Gangguan terhadap jalur tersebut mempersempit alternatif ekspor ketika lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz juga menurun tajam, dengan data pelacakan awal mencatat hanya tujuh kapal melintas pada 10 September.

Read Entire Article
Politics | | | |