Melintasi Lorong Sejarah

2 hours ago 6

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak menit pertama membaca judul Time Hoppers: The Silk Road, ada kesan bahwa film yang tayang nasional di AS ini ingin mengajak penonton berjalan-jalan santai di lorong sejarah. Tapi jangan salah, lorong yang satu ini bukan sekadar lorong museum dengan kaca tebal dan papan larangan menyentuh.

Ia lebih mirip pasar Jalur Sutra itu sendiri: riuh, lintas bahasa, penuh tawar-menawar gagasan, dan sesekali rawan penipuan epistemologis. Bahwa film ini dikemas sebagai animasi keluarga justru menarik, sebab di situlah ia bermain di wilayah yang selama ini jarang disentuh serius oleh narasi Muslim kontemporer: imajinasi anak-anak.

Film Time Hoppers: The Silk Road yang juga layak ditonton di bulan suci Ramadhan ini menampilkan empat anak dari tahun 2050 yang bisa melompat waktu bukan sekadar tokoh fiksi dengan bakat super. Mereka adalah metafora generasi Muslim masa depan yang idealnya tidak memutus hubungan dengan masa lalu.

Perjalanan waktu dalam film ini bukan nostalgia murahan, melainkan mekanisme naratif untuk menyatakan satu tesis penting: ilmu pengetahuan tidak pernah lahir di ruang hampa, dan masa depan sains modern berdiri di atas pundak para ilmuwan yang namanya terlalu sering dipinggirkan dalam buku teks populer.

Di sini, Jalur Sutra tampil bukan sebagai latar eksotis, tetapi sebagai tulang punggung peradaban global — jalur tempat matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan bahkan metode berpikir ilmiah saling bersilang. Namun, ia menjadi sensasi dan membangkitkan adrenalin ketika godaan dan tantangan datang.

Tokoh antagonis berupa “alkemis jahat” yang tampil di film terasa sederhana di permukaan, hampir klise. Namun jika dibaca lebih dalam, ia adalah personifikasi dari segala bentuk distorsi ilmu: pseudo-sains, manipulasi pengetahuan demi kekuasaan, dan obsesi menguasai masa depan dengan cara merusak fondasi masa lalu.

Ini bukan soal sihir versus sains, melainkan kritik halus terhadap kecenderungan manusia — termasuk umat beragama — yang ingin hasil instan tanpa menghormati proses intelektual panjang. Dalam konteks ini, konflik film justru relevan dengan dunia modern yang dijejali teori konspirasi, pengetahuan setengah matang, dan klaim kebenaran instan bermodal algoritma.

Keputusan kreatif untuk menghadirkan ilmuwan Muslim sebagai figur yang harus “dilindungi” oleh anak-anak adalah pembalikan peran yang menarik. Biasanya, sejarah digambarkan sebagai sesuatu yang melindungi identitas kita. Film ini membalik logika itu: justru kitalah yang bertanggung jawab menjaga sejarah agar tidak disabotase.

Pesannya jelas namun tidak menggurui — sebuah pilihan cerdas untuk audiens keluarga. Anak-anak tidak diajak menghafal nama tokoh dan tahun wafat, melainkan diajak menyadari bahwa hilangnya satu mata rantai pengetahuan bisa berdampak panjang pada masa depan peradaban.

Namun di titik inilah terasa bahwa film ini baru membuka pintu, belum sepenuhnya masuk ke rumah besar bernama peradaban Islam. Jalur Sutra yang begitu kaya sebenarnya menyimpan konflik intelektual yang jauh lebih kompleks: perdebatan rasio dan wahyu, tarik-menarik antara ilmu murni dan kepentingan politik, serta dinamika lintas agama dan budaya yang membentuk sains klasik.

Film ini memilih jalur aman — edutainment yang memancing rasa ingin tahu, bukan diskursus berat. Pilihan ini bisa dipahami secara strategis, tapi sekaligus menyisakan rasa “kurang kenyang” bagi penonton dewasa yang sadar betapa besarnya potensi cerita yang bisa dikembangkan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |