Masih Suka 'Mager'? Hati-Hati, Diabetes dan Obesitas di Usia Produktif Mengintai

9 hours ago 11

Sejumlah warga berwisata di Tebet Eco Park, Jakarta, Kamis (25/12/2025). Gaya hidup minim aktivitas fisik atau sedentary life kini menjelma menjadi ancaman diam-diam bagi kesehatan masyarakat modern.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gaya hidup minim aktivitas fisik atau sedentary life kini menjelma menjadi ancaman diam-diam bagi kesehatan masyarakat modern. Transformasi gaya kerja dan kemudahan akses teknologi membuat mayoritas orang terjebak dalam rutinitas pasif, yang secara signifikan meningkatkan risiko munculnya penyakit degeneratif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kurangnya aktivitas fisik merupakan penyebab kematian nomor empat di dunia, dengan dua juta orang meninggal setiap tahunnya akibat gaya hidup malas tersebut. Merespons darurat kebiasaan buruk ini, pakar kedokteran okupasi, dr Rubayat Indradi, yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengingatkan masyarakat untuk mulai mengevaluasi pola aktivitas sehari-hari dan mengurangi kebiasaan pasif.

la menjelaskan sedentary lifestyle atau gaya hidup sedentari adalah pola hidup minim aktivitas fisik di mana seseorang banyak menghabiskan waktu dengan duduk atau berbaring tanpa mengeluarkan banyak energi. la menilai pola tersebut semakin umum terjadi di tengah perubahan gaya kerja, aktivitas belajar, serta kemajuan teknologi digital.

Baik pekerja maupun pelajar dapat menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi statis tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup. Kondisi ini pun perlu diwaspadai karena merupakan gerbang utama menuju berbagai komplikasi kesehatan serius yang mulai menyerang masyarakat pada usia produktif.

"Silakan menganalisis diri sendiri per 24 jam, berapa jam Anda duduk di ruangan atau rebahan, yang mana itu adalah contoh nyata sedentary work yang berisiko memunculkan obesitas, diabetes, hingga hipertensi," kata dr Rubayat dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, pesatnya kemajuan teknologi digital turut berkontribusi dalam memanjakan sekaligus merusak pola gerak aktif masyarakat. Ia pun menyayangkan kebiasaan publik yang kian enggan melakukan mobilitas fisik dasar, seperti mengandalkan layanan pesan-antar atau menggunakan kendaraan bermotor meski jarak yang ditempuh sangat dekat.

"Kecanggihan teknologi sekarang itu bikin kita jadi malas, apa-apa delivery, ya 'mager'. Kenapa tidak diubah habit-nya itu, cobalah jalan kaki dan jangan takut berkeringat," kata dia.

Read Entire Article
Politics | | | |